Sabtu, 18 Juli 2026

Dua Bulan Sampah Meluber ke Jalan Akhirnya Dibakar Warga

Berita Terkait

Tumpukan sampah rumah tangga meluber hingga ke badan jalan di ruas jalan utama Seibinti, tepatnya di depan Masjid Aminah, Sungai Lekop, Kecamatan Sagulung, Jumat, (17/7). F. Jamaluddin/Batam Pos

batampos – Tumpukan sampah rumah tangga menggunung di ruas jalan utama Seibinti, tepatnya di depan Masjid Aminah, Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Jumat, (17/7). Sampah yang meluber hingga ke badan jalan itu sebagian dibakar oleh warga sehingga menimbulkan asap putih pekat dan bau menyengat yang mengganggu pengendara maupun masyarakat sekitar.

Berbagai jenis limbah rumah tangga, mulai dari plastik kemasan, sisa sayuran, kardus bekas, hingga limbah kelapa, terlihat menumpuk di sepanjang jalan simpang menuju Sei Lekop. Sebagian besar sampah tampak menghitam akibat dibakar.

Nur, warga Sei Lekop, mengatakan tumpukan sampah tersebut telah terjadi sekitar dua bulan terakhir. Menurut dia, pembakaran dilakukan oleh orang tak dikenal maupun warga sekitar untuk mengurangi volume sampah yang terus bertambah.

“Asapnya terbawa angin ke jalan utama dan permukiman warga, bahkan sampai ke dekat masjid,” kata Nur.

Baca Juga: Warga Soroti Tumpukan Sampah Pasar Jodoh, Khawatir Cemari Sungai dan Picu Banjir

Ia menjelaskan persoalan utama bukan hanya banyaknya sampah yang dibuang di lokasi itu, melainkan juga berkurangnya frekuensi pengangkutan oleh petugas kebersihan.

Warga sebelumnya terbiasa melihat truk pengangkut sampah datang dua kali dalam sepekan, yakni setiap Rabu dan Sabtu. Namun dalam beberapa bulan terakhir, jadwal itu kerap tidak dipenuhi. Dalam sepekan, sampah terkadang hanya diangkut sekali, bahkan pernah tidak diangkut sama sekali.

Akibatnya, sampah meluber hingga ke badan jalan dan mengganggu pengguna jalan yang melintas.

“Pernah diangkat, tapi tidak semuanya, cuma separuh. Setelah itu justru makin banyak. DLH tidak lagi mengangkut sampahnya,” ujar Nur.

Keluhan serupa disampaikan Ainun, warga lainnya yang tinggal cukup dekat dengan tumpukan sampah tersebut. Ia mengatakan petugas tetap rutin memungut retribusi kebersihan setiap bulan meski pengangkutan sampah dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Petugas datang pakai seragam dinas, setiap bulan tetap memungut biaya kebersihan sebesar Rp7 ribu,” katanya.

Menurut Ainun, sampah yang menumpuk tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga dari masyarakat luar yang membuang sampah di lokasi tersebut.

Baca Juga: Lulusan SMK Kepri Dipacu Langsung Masuk Industri, Kendala Bahasa Mandarin Jadi Sorotan

Persoalan serupa juga terjadi di kawasan Jalan Dapur 12 yang berbatasan dengan sejumlah perusahaan galangan kapal atau shipyard. Di kawasan tersebut, sampah menumpuk di tepi hingga badan jalan dan sebagian dibakar.

Sepanjang sekitar 300 meter, kawasan itu dipenuhi sampah plastik, potongan kayu, limbah kelapa, hingga berbagai jenis rongsokan lainnya. Sebagian besar sampah terlihat menghitam akibat pembakaran yang menghasilkan asap dan mengganggu pengguna jalan yang melintas.

Hingga sore hari, tumpukan sampah di kedua lokasi masih terlihat menggunung dengan asap yang terus mengepul akibat pembakaran sampah plastik, potongan kayu, limbah kelapa, hingga berbagai jenis rongsokan lainnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, Dohar Mangalando Hasibuan, telah dihubungi melalui sambungan telepon dan pesan singkat pada Kamis dan Jumat, 16-17 Juli 2026. Namun, pejabat yang baru dilantik pada Februari 2026 itu belum memberikan tanggapan atas keluhan warga tersebut.

Muhammad Rudi, ketua Komisi III DPRD Kota Batam yang membidangi pembangunan, infrastruktur, perumahan, lingkungan hidup, tata ruang, perhubungan, energi, dan sumber daya manusia juga telah dikonfirmasi melalui telepon maupun pesan singkat. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada respons yang diberikan. (*)

 

 

UPDATE

Play sound