Jumat, 17 Juli 2026

Lulusan SMK Kepri Dipacu Langsung Masuk Industri, Kendala Bahasa Mandarin Jadi Sorotan

Berita Terkait

Ilustrasi: Siswa SMKN 1 Batam praktek belajar. Foto istimewa.

batampos – Pemerintah Provinsi Kepulaua Riau terus mengarahkan pendidikan vokasi agar selaras dengan kebutuhan industri. Melalui penguatan program link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan dunia usaha serta dunia industri (DUDI), lulusan SMK ditargetkan dapat langsung terserap ke dunia kerja, terutama di sektor manufaktur yang masih membutuhkan banyak tenaga terampil.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Andi Agung, mengatakan sektor manufaktur di Kepri, khususnya di kawasan industri Batam, Bintan, dan Karimun, masih membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi teknis seperti pengelasan, teknik manufaktur, hingga berbagai keahlian vokasi lainnya.

“Banyak lulusan SMK yang masuk ke sektor manufaktur. Keahlian seperti pengelasan dan bidang teknis lainnya masih sangat dibutuhkan. Ini menjadi kebanggaan karena menunjukkan lulusan SMK mampu bersaing di dunia kerja,” kata Andi Agung, Jumat (17/7)

Namun, di tengah tingginya kebutuhan tenaga kerja, pemerintah masih azmenemukan sejumlah hambatan. Salah satu yang paling sering dikeluhkan perusahaan adalah kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Mandarin, yang kini menjadi kebutuhan di sejumlah perusahaan industri di Kepri.

Menurut Andi, persoalan tersebut menjadi perhatian dalam pengembangan pendidikan vokasi. Pemerintah bersama Kementerian Pendidikan mulai menyesuaikan kurikulum agar tidak hanya menguatkan kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan pendukung yang dibutuhkan industri.

Baca Juga: Batam Kembali Jadi Panggung Industri Maritim Dunia

“Kadang perusahaan terkendala kemampuan bahasa, terutama Bahasa Mandarin. Karena itu, penguatan link and match juga dilakukan melalui penyesuaian kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Penyesuaian itu juga dilakukan melalui penetapan program keahlian SMK yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan industri di setiap daerah.

Di Batam, Bintan, dan Karimun, fokus pengembangan diarahkan pada industri manufaktur berteknologi tinggi, galangan kapal, minyak dan gas, serta sektor pariwisata.

Sementara itu, di Natuna, Anambas, dan Lingga, pendidikan vokasi dikembangkan untuk mendukung sektor kemaritiman, ketahanan pangan, hilirisasi hasil laut, hingga digitalisasi layanan daerah yang diharapkan mampu melahirkan wirausahawan muda.

Langkah tersebut sekaligus mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), industri maritim, ekonomi digital, hingga sektor energi hijau yang menjadi arah pembangunan ekonomi Kepri.

Andi menegaskan implementasi link and match tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman antara sekolah dan perusahaan. Kerja sama telah diwujudkan dalam berbagai program konkret, mulai dari penyelarasan kurikulum, pelaksanaan magang, kehadiran praktisi industri sebagai guru tamu, hingga rekrutmen lulusan yang telah memenuhi standar kompetensi perusahaan.

Adapun sektor prioritas yang menjadi sasaran pengembangan kompetensi lulusan SMK meliputi industri manufaktur elektronik dan logam, perkapalan dan jasa kelautan, logistik dan perdagangan global, teknologi informasi, energi hijau, pariwisata dan hospitality serta infrastruktur dan konstruksi.

Baca Juga: Jambret Masih Mengintai, Kapolresta Barelang Ajak Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Senada dengan itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepri, Diky Wijaya, menilai keberhasilan menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Diky, sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan pelaku industri menjadi fondasi untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal.

“Membangun SDM Kepri yang siap kerja harus dimulai dari kolaborasi. Link and match pendidikan menengah dengan dunia usaha dan dunia industri merupakan langkah strategis agar lulusan memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal,” kata Diky.

Ia berharap penguatan kolaborasi tersebut mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang semakin produktif dan berdaya saing. Dengan demikian, lulusan SMK di Kepulauan Riau tidak hanya lebih mudah memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu menjadi tenaga kerja unggulan yang mendukung pertumbuhan investasi dan industri di daerah.

“Harapannya, semakin banyak lulusan SMK Kepri yang dapat langsung terserap di dunia industri karena kompetensinya memang telah disiapkan sesuai kebutuhan perusahaan,” ujar Diky. (*)

ReporterAzis Maulana

UPDATE

Play sound