
batampos – Perkembangan ekspor di Batam terus menunjukkan kestabilan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Batam, nilai ekspor Batam di November 2021 mencapai US$ 1.155,34 juta atau naik sebesar 8,06 persen, dibandingkan Oktober 2021.
“Ekspor di Batam menyumbang 77,47 persen dari total ekspor se-Kepri sebesar US$ 1.491,35 juta. Kontribusinya disumbangkan oleh ekspor nonmigas senilai US$ 1.044,37 juta atau naik 9,48 persen dari Oktober 2021. Sedangkan ekspor migas mencapai US$ 110,97 juta atau turun 3,70 persen dibanding bulan sebelumnya,” kata Kepala BPS Batam, Rahmad Iswanto, Selasa (11/1).
Adapun tujuan ekspor terbesar masih ke Singapura dengan nilai US$ 454,43 juta dengan kontribusi mencapai 41,02 persen. Sementara barang paling banyak diekspor yakni golongan barang mesin dan peralatan listrik sebesar US$ 438,58 juta.
Penyebab tetap stabilnya ekspor Batam ini, karena limpahan pesanan dari negara-negara saingan di Asia Tenggara yang masih melakukan lockdown.
Koordinator Wilayah Batam dan Karimun Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng mengatakan dengan lockdownnya Malaysia, Vietnam, Filipina, serta Myanmar yang kondisinya kurang stabil akibat persoalan geopolitis, membuat Batam kebagian pesanan yang cukup besar.
“Karena mereka tutup, Batam yang tetap mengizinkan industrinya tetap beroperasi dengan Izin Operiasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) mendapat limpahan order cukup besar, sehingga saat pandemi, ekspor Batam saat ini malah paling tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Tjaw di Batam Centre, Selasa (28/12).
Kawasan industri di Batam menyumbang 70 persen dari kontribusi ekspor Kepri, didominasi oleh mesin dan peralatan elektronik. Selanjutnya industri kesehatan juga ikut menopang perekonomian Kepri,” tuturnya. (*)
Reporter: RIFKI SETIAWAN

