
batampos – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah wajah ekonomi dunia, Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau menaruh harapan besar kepada generasi muda. Sebanyak 161 mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia (GenBI) Kepri dikumpulkan dalam sebuah program penguatan kapasitas dan kepemimpinan. Tujuannya bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan menyiapkan agen perubahan yang mampu menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau di Batam Centre
dipenuhi mahasiswa dari tiga perguruan tinggi mitra BI, yakni Politeknik Negeri Batam, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), dan STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. Mereka mengikuti kegiatan Capacity Building and Leadership Practice yang dirancang untuk memperkuat kemampuan kepemimpinan, literasi ekonomi, kewirausahaan, hingga keterampilan digital.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan investasi paling strategis bagi pembangunan bangsa. Menurut dia, pendidikan formal di kampus perlu dilengkapi dengan pengalaman, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Bank Indonesia memandang investasi terbaik adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Belajar itu tidak hanya dari kampus. Mahasiswa perlu terlibat dalam akselerasi digitalisasi dan mendorong UMKM agar bisa naik kelas,” kata Rony , Jumat (5/6).
Di hadapan para peserta, Rony menggambarkan kondisi ekonomi Kepulauan Riau yang saat ini berada dalam tren positif. Pertumbuhan ekonomi daerah dinilai tetap kuat, inflasi terkendali, dan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) termasuk yang terbaik di Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan keberhasilan pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada sektor ekonomi, tetapi juga pendidikan dan kesehatan.
Namun di balik indikator makro yang menggembirakan itu, masih terdapat pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah tingginya tingkat pengangguran yang masih membayangi daerah industri seperti Kepulauan Riau.
“Pertumbuhan ekonomi Kepri tinggi, pendapatan per kapitanya juga termasuk yang tertinggi di Indonesia. Tetapi pertanyaannya, mengapa pengangguran masih tinggi? Ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama,” ujarnya.
Bagi Bank Indonesia, salah satu jawaban atas tantangan tersebut adalah memperkuat kualitas generasi muda agar memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi. Karena itu, GenBI diproyeksikan tidak hanya menjadi penerima manfaat program beasiswa, tetapi juga motor penggerak transformasi ekonomi digital di tengah masyarakat.
Salah satu peran yang disiapkan adalah menjadi Duta QRIS untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Rony menilai masih banyak ruang untuk memperluas penggunaan sistem pembayaran digital di Kepulauan Riau, terutama di sektor perdagangan dan pariwisata yang banyak berinteraksi dengan wisatawan mancanegara.
Menurut dia, penggunaan QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membantu pelaku usaha membangun rekam jejak keuangan yang dapat digunakan untuk mengakses pembiayaan dari perbankan.
“Masih banyak wisatawan yang datang dan bertransaksi menggunakan uang tunai. Padahal melalui QRIS, UMKM bisa memiliki catatan transaksi yang lebih baik sehingga peluang memperoleh akses pembiayaan juga semakin besar,” katanya.
Untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan tersebut, Bank Indonesia menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Selain materi kebanksentralan, ekonomi, inflasi, dan sistem pembayaran digital, peserta juga memperoleh pelatihan mengenai industri kreatif dan transformasi teknologi.
Materi lain disampaikan oleh Madi Dwinando instruktur bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang memiliki pengalaman panjang di bidang teknologi informasi dan media digital. Melalui pendekatan fotografi dan videografi, Madi mengajak peserta memahami konsep kepemimpinan kreatif, kemampuan kolaborasi, serta pentingnya komunikasi visual dalam era ekonomi digital.
Program penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia memperkuat peran GenBI sebagai komunitas mahasiswa penerima beasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan kemampuan kepemimpinan.
GenBI sendiri merupakan komunitas yang dibentuk Bank Indonesia sejak 2011. Selain menerima bantuan pendidikan dan biaya hidup, para anggota didorong menjadi frontliner yang mengedukasi masyarakat mengenai kebijakan bank sentral, literasi keuangan, serta pengembangan ekonomi daerah. Aktivitas mereka berfokus pada empat pilar utama, yaitu pendidikan, lingkungan hidup, kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat.
Di Kepulauan Riau, komunitas tersebut saat ini beranggotakan 162 mahasiswa yang berasal dari tiga kampus mitra Bank Indonesia, yakni 55 mahasiswa dari Politeknik Negeri Batam, 55 mahasiswa dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, dan 52 mahasiswa dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau.
Melalui program ini, Bank Indonesia berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memahami teori ekonomi dan teknologi, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.(*)

