
batampos – Rangkaian puncak ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi mulai berlangsung hari ini, Senin (25/5). Ribuan jemaah haji Indonesia, termasuk jemaah asal Embarkasi Batam, mulai diberangkatkan secara bertahap dari hotel di Makkah menuju Padang Arafah untuk menjalani prosesi wukuf.
Ketua PPIH Embarkasi Batam yang juga Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepri, Muhammad Syafii mengatakan, pergerakan jemaah menuju Arafah dilakukan pada 8 Dzulhijjah waktu Arab Saudi dengan sistem bertahap guna menghindari kepadatan.
“Untuk jemaah Embarkasi Batam, hari ini jemaah bergerak menuju Arafah dimulai pukul 07.00 WAS,” ujarnya, Senin (25/5).
Ia menjelaskan, keberangkatan jemaah dibagi dalam tiga gelombang atau trip, yakni pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi. Skema ini diterapkan agar proses mobilisasi berjalan lebih tertib dan nyaman.
Sementara itu, Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi memastikan seluruh persiapan layanan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) terus dimatangkan. Seluruh jemaah haji Indonesia kini telah berada di Makkah dan memasuki fase akhir persiapan menuju puncak haji.
Menjelang keberangkatan menuju Arafah, jemaah juga diimbau menjaga kondisi kesehatan dengan memperbanyak istirahat, makan teratur, serta mengonsumsi air yang cukup mengingat suhu di Arab Saudi cukup tinggi. Jemaah juga diminta membawa barang seperlunya selama berada di Armuzna.
Selain itu, koordinasi antara Kementerian Haji Arab Saudi, PPIH Arab Saudi, petugas kloter, sektor, hingga seluruh unsur layanan terus diperkuat demi memastikan pelaksanaan puncak haji berjalan optimal.
Untuk jemaah lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, serta pendampingnya, pemerintah menyiapkan skema khusus berupa murur dan tanazul.
Murur merupakan skema pergerakan jemaah dari Arafah yang hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, kemudian langsung menuju Mina. Skema ini diterapkan bagi lansia, disabilitas, dan jemaah berisiko tinggi untuk mengurangi kelelahan akibat kepadatan di Muzdalifah.
Sedangkan tanazul adalah skema pemulangan jemaah dari Mina lebih awal ke hotel di Makkah setelah melontar jumrah, sehingga jemaah tidak perlu bermalam penuh di Mina. Kebijakan ini juga ditujukan bagi jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu agar ibadah tetap dapat dijalankan dengan aman dan nyaman.
Sementara itu, bagi jemaah yang masih menjalani perawatan di rumah sakit, pemerintah juga menyiapkan layanan safari wukuf. Program ini memungkinkan jemaah yang sakit tetap dapat mengikuti wukuf di Arafah menggunakan ambulans atau kendaraan khusus dengan pendampingan tenaga medis dan petugas haji.
Muhammad Syafii menyebutkan, sebagian jemaah yang sebelumnya dirawat sudah ada yang sembuh dan kembali bergabung dengan rombongan. Namun hingga kini masih terdapat tujuh jemaah asal Embarkasi Batam yang menjalani perawatan di rumah sakit.
“Ada yang sudah sembuh dan ada yang masih dirawat. Di rumah sakit sekarang ada tujuh jemaah, yakni Kalbar dua orang, Jambi dua orang, Riau dua orang, dan Kepri satu orang,” katanya.(*)



