Sabtu, 11 Juli 2026

Data Center Mesin Ekonomi Baru

Berita Terkait

Foto udara pembangunan data center di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Foto: ANTARA

batampos – Investasi pusat data (data center) senilai sekitar Rp120 triliun yang masuk ke Batam dipastikan tidak akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar seperti industri manufaktur. Namun, investasi tersebut diyakini mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru apabila pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) lokal yang sesuai dengan kebutuhan industri digital.

Direktur Politeknik Negeri Batam (Polibatam) Bambang Hendrawan mengatakan industri data center memiliki karakter berbeda dengan manufaktur. Kebutuhan tenaga kerjanya memang tidak banyak, tetapi menuntut kompetensi tinggi di bidang teknologi informasi, kelistrikan, sistem pendingin, jaringan komputer, komputasi awan (cloud computing), hingga keamanan siber.

Menurut dia, peluang kerja akan terbuka sejak tahap pembangunan hingga operasional. Pada masa konstruksi dibutuhkan tenaga sipil, mekanikal, elektrikal, serta jaringan. Setelah beroperasi, kebutuhan bergeser kepada teknisi data center, operator jaringan, facility engineer, hingga tenaga ahli AI dan keamanan siber.

”Investasi data center memang tidak menciptakan lapangan kerja sebanyak industri manufaktur. Tetapi kualitas pekerjaan yang tercipta jauh lebih tinggi karena membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi dan sertifikasi khusus,” kata Bambang kepada Batam Pos, Jumat (10/7).

Ia menilai manfaat investasi tidak boleh hanya diukur dari jumlah pekerja yang direkrut langsung operator data center. Dampak yang jauh lebih besar justru muncul melalui tumbuhnya ekosistem industri digital yang melibatkan kontraktor lokal, perusahaan teknologi, penyedia layanan jaringan, logistik, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.

”Data center jangan berhenti hanya menjadi bangunan server. Yang harus dibangun adalah ekosistem digitalnya sehingga manfaat ekonominya mengalir lebih luas kepada masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, Bambang meminta pemerintah, investor, perguruan tinggi, SMK, hingga balai latihan kerja mulai menyusun kebutuhan SDM secara bersama. Menurutnya, kurikulum, sertifikasi, dan program magang harus disesuaikan dengan kebutuhan industri sejak sekarang.

”Jangan menunggu fasilitasnya selesai dibangun. Ketika investasi masuk, SDM lokal juga harus sudah siap,” katanya.

APINDO: Investasi Tetap Jadi Motor Ekonomi

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki, juga mengatakan meski tidak menyerap tenaga kerja sebanyak industri manufaktur, investasi sekitar Rp120 triliun tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Batam.

”Rp120 triliun itu sudah sangat besar. Ini akan menggerakkan ekonomi Batam. Ketika investasi meningkat, pertumbuhan ekonomi juga akan ikut terdorong,” ujarnya.

 

BACA BERITA LENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

ReporterM. Sya'ban

UPDATE

Play sound