
batampos – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam mengalami peningkatan pada periode Januari hingga April 2022. Bahkan dua pasien meninggal dunia karena penyakit tersebut.
Angka itu juga diketahui naik bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi musim penghujan di awal tahun ini dise-but menjadi salah satu faktor meningkatnya kasus DBD tersebut.
Berdasarkan Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, angka kasus DBD sepanjang Januari 2022 sebanyak 85 kasus.
Jumlah itu sempat turun di bulan Februari 2022 sebanyak 58 kasus dan naik menjadi 75 kasus di Maret 2022. Sedangkan hingga pertengahan April ini, tercatat sudah ada 42 kasus.
Jika secara keseluruhan, kasus DBD di Batam sepanjang tahun 2022 ini berjumlah 260 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak dua orang pasien dinyatakan meninggal dunia.
Pasien yang meninggal ini tercatat satu orang pada bulan Januari 2022 dan satu lainnya di bulan Maret 2022.
Sementara, pada periode yang sama tahun sebelumnya, terdapat sekitar 230 kasus DBD, dimana satu orang pasien DBD dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, kasus DBD ini tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kota Batam. Sepanjang tahun 2021 lalu, terdapat 765 kasus DBD, dimana empat pasien di antaranya meninggal.
Karena itu, Didi mengingatkan warga agar mewaspadai penyakit DBD. Pasalnya, saat ini tengah memasuki musim hujan dan diprediksi kasus DBD akan meningkat.
“Populasi nyamuk aedes aegypti (penyebab DBD) akan meningkat. Peningkatan ini tentunya juga meningkatkan penularan penyakit DBD,” jelasnya.
Dilanjutkan Didi, kasus DBD ini bersifat fluktuatif. Namun, saat musim hujan, penyakit DBD biasanya akan meningkat.
Dimana, kata dia, pada musim hujan populasi aedes aegypti akan meningkat karena telur yang belum menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya mulai tergenang air hujan.
Kondisi tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan peningkatan penularan penyakit DBD.
”Oleh sebab itulah kami mengimbau untuk tetap menerapkan 3M+, yakni menguras, mengubur, dan menutup wadah yang berpotensi jadi sarang nyamuk, serta menggunakan pelindung tambahan saat tidur. Peran aktif masyarakat sangat diperlukan di dalam mencegah penyebaran DBD ini,” imbaunya.
Selain itu, berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Batam untuk penanganan kasus DBD ini. Salah satunya, dengan memberikan penyuluhan ke masyarakat.
Termasuk, dengan menggalakan peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan programnya ’Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik’.
Mereka aktif membantu pihak puskesmas di lingkungannya untuk memantau perkembangan jentik nyamuk hingga ke rumah-rumah warga dan memberikan imbauan agar tak timbul DBD.
”Kami aktifkan kembali gerakan 1 rumah 1 jumantik,” kata Didi.(*)
Reporter: Rengga Yuliandra



