
batampos – Kasus pemerasan disertai kekerasan terhadap warga negara Malaysia, AI bin Ibrahim (29), memasuki babak baru. Setelah sebelumnya menangkap dua tersangka, yakni FDD alias Rizal (20) dan AR alias Raja (23), penyidik Polsek Batu Ampar mengungkap bahwa aksi tersebut telah direncanakan sejak awal. Korban yang merupakan pegawai pemerintah Malaysia diincar melalui media sosial sebelum akhirnya menjadi korban pemerasan di sebuah hotel kawasan Kampung Seraya, Kecamatan Batu Ampar, Batam.
Kanit Reskrim Polsek Batu Ampar, Iptu Eko Kurniawan, mengatakan kedua pelaku lebih dulu menjalin komunikasi dengan korban melalui media sosial. Setelah berhasil membangun kedekatan, pelaku menawarkan diri untuk menjemput, mengantar, sekaligus menemani korban selama berada di Batam.
“Korban sudah diincar melalui media sosial. Pelaku kemudian berpura-pura menjemput, mengantar, dan menemani korban,” ujar Iptu Eko.
Sesuai rencana yang telah disusun, pelaku menjemput korban setibanya di Pelabuhan Batam Center. Setelah bertemu, korban diajak makan bersama sebelum kemudian dibawa menuju sebuah hotel di kawasan Kampung Seraya.
Di dalam kamar hotel itulah aksi kejahatan dilakukan. Korban diancam akan dibunuh apabila tidak menyerahkan uang kepada pelaku. Karena ketakutan, korban mentransfer uang sebesar Rp2 juta. Saat mencoba melarikan diri, korban dipukul di bagian hidung dan pelipis mata kiri, kemudian kembali dipaksa mentransfer uang sebesar Rp3 juta.
Setelah menerima laporan korban, Unit Reskrim Polsek Batu Ampar bersama Tim Subdit III Jatanras Polda Kepri bergerak cepat melakukan penyelidikan. Kurang dari 24 jam kemudian, kedua tersangka berhasil ditangkap beserta sejumlah barang bukti yang diduga digunakan maupun diperoleh dari hasil kejahatan.
Meski sama-sama menyasar warga negara asing, polisi menegaskan hingga saat ini belum menemukan adanya indikasi bahwa kasus tersebut menggunakan modus jebakan asmara sesama jenis seperti perkara yang sebelumnya diungkap Polresta Barelang.
“Belum ada indikasi mengarah ke modus asmara sesama jenis. Sementara hasil penyelidikan menunjukkan hubungan korban dengan pelaku sebatas kenalan atau teman biasa. Kami masih terus mendalami seluruh rangkaian peristiwa untuk memastikan motifnya,” tegas Iptu Eko.
Polisi memastikan penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan adanya korban lain maupun jaringan pelaku yang menggunakan pola serupa.(*)

