
batampos -Kenaikan biaya tambahan tiket ferry internasional mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pariwisata Batam. Apalagi sebelumnya pihak ASITA menyebut mulai ada pengurangan jumlah wisatawan mancanegara akibat tambahan biaya perjalanan tersebut.
Namun sejauh ini, dampaknya belum benar-benar terasa di sektor hotel.
Sekretaris PHRI Kepri sekaligus General Manager Biz Hotel Batam, Teddy, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan data dari hotel-hotel lain di Batam untuk melihat apakah sudah ada penurunan tingkat okupansi, terutama dari wisatawan asing.
“Belum ada data dari hotel lain. Tapi dari hotel (Biz Hotel) kami belum ada penurunan karna tamu kami individual,” kata dia, Kamis (16/4) siang.
Menurut Teddy, hingga pertengahan April ini belum terlihat adanya penurunan tamu di hotel tempatnya bekerja. Hal itu karena pasar utama hotel tersebut lebih banyak berasal dari tamu individu, bukan rombongan wisata atau kegiatan kelompok.
“Belum terlihat penurunan di bulan Maret dan April,” katanya.
Artinya, sampai saat ini PHRI Kepri belum bisa menyimpulkan apakah kenaikan surcharge ferry benar-benar berdampak terhadap okupansi hotel secara keseluruhan di Batam. Data komparasi antarbulan maupun dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga masih dalam proses pengumpulan.
Meski begitu, Teddy mengakui kondisi hotel dan restoran memang sedang menghadapi tantangan tersendiri. Selain kenaikan biaya ferry, sektor perhotelan juga terdampak oleh pembatasan kegiatan pemerintah di hotel akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Selama ini, banyak hotel di Batam yang bergantung pada kegiatan rapat, seminar, hingga agenda pemerintahan. Ketika kegiatan itu mulai dikurangi, tentu akan mempengaruhi operasional hotel dan restoran, terutama yang mengandalkan pasar meeting dan event.
Namun hingga saat ini, Teddy menegaskan belum ada pembahasan soal pengurangan tenaga kerja akibat kondisi tersebut.
Di sisi lain, Batam justru masih memiliki daya tarik kuat di mata wisatawan dari Singapura dan Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga bahan pokok dan biaya hidup di dua negara tetangga itu.
Di Singapura, inflasi makanan per Februari 2026 naik menjadi 1,6 persen dari sebelumnya 1,2 persen. Harga daging, sereal, buah-buahan, hingga BBM mengalami kenaikan cukup tinggi. Harga bahan bakar bahkan mencapai sekitar SGD 2,35 per liter.
Sementara di Malaysia, inflasi pangan memang masih relatif stabil di kisaran 1,3 hingga 1,5 persen. Namun harga komoditas utama seperti minyak sawit terus meningkat, begitu juga harga BBM.
Kondisi itu justru membuat Batam semakin menarik bagi warga Singapura dan Malaysia. Harga bahan pokok, makanan, hotel, hiburan, hingga transportasi di Batam masih jauh lebih murah.
Akibatnya, banyak warga negara tetangga yang kini datang ke Batam bukan hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Fenomena itu diperkuat oleh nilai tukar rupiah yang relatif lebih murah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia.
Walaupun biaya ferry naik, wisatawan masih merasa lebih hemat karena pengeluaran mereka di Batam tetap lebih rendah dibanding di negara asal. Singapura masih menjadi penyumbang terbesar wisatawan asing ke Batam, yakni lebih dari 50 persen dari total kunjungan.
Sementara wisatawan asal Malaysia juga menunjukkan kenaikan signifikan, bahkan disebut tumbuh lebih dari 30 persen pada awal 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Batam tidak lagi hanya dipandang sebagai destinasi liburan akhir pekan, tetapi beralih fungsi menjadi pusat belanja logistik rumah tangga bagi warga negara tetangga yang ingin menekan biaya hidup mereka,” kata Teddy.(*)



