
batampos – Tenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 berbendera Tanzania di jalur pelayaran internasional Selat Singapura menyisakan pekerjaan besar bagi otoritas maritim. Bukan hanya penyelidikan penyebab kecelakaan, tetapi juga upaya mengamankan puluhan kontainer yang hanyut dan berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran di wilayah perairan Batam.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan fokus utama saat ini adalah mengevakuasi kontainer-kontainer yang terbawa arus ke wilayah perairan Indonesia, khususnya Batam, setelah kapal yang berlayar dari Singapura menuju Pasir Gudang, Malaysia itu tenggelam pada Jumat (5/6) malam.
Menurut Takwim, penyebab tenggelamnya kapal masih dalam proses pendalaman karena kapal tersebut berangkat dari Singapura dan tidak berasal dari pelabuhan Indonesia. Namun, di tengah proses investigasi, keselamatan jalur pelayaran menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Baca Juga: Kapal Berbendera Tanzania Tenggelam di Selat Singapura, Begini Nasib 9 ABK Indonesia
“Penyebabnya kami masih mendalami karena kapal ini berangkat bukan dari Indonesia, tetapi dari Singapura. Saat ini fokus kami adalah penanganan kontainer yang hanyut untuk memastikan alur pelayaran Indonesia, khususnya Batam, tetap aman dari sisa kontainer yang hanyut,” ujarnya, saat konferensi pers dengan media, Sabtu (6/6).
MV Golden Star 1 diketahui mengangkut 107 kontainer saat mengalami kecelakaan di kawasan Traffic Separation Scheme (TSS), salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang dilintasi ribuan kapal setiap tahun. Sebagian kontainer yang terlepas dari kapal kemudian terbawa arus menuju perairan sekitar Batam.
Keberadaan kontainer yang terapung maupun yang setengah tenggelam dinilai sangat berbahaya bagi kapal yang melintas. Dalam kondisi tertentu, kontainer dapat sulit terdeteksi, terutama pada malam hari atau saat cuaca kurang bersahabat.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan lanjutan, KSOP Batam bersama Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kelas II Tanjung Uban, Distrik Navigasi, serta nelayan setempat bergerak melakukan pencarian dan pengamanan kontainer yang ditemukan di laut.
Hingga saat ini, sebanyak 18 kontainer telah berhasil ditemukan dan dikandaskan sementara di kawasan Pulau Putri. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya operasi pencarian di lapangan.
“Kami berharap kontainer itu tetap mengapung sehingga bisa ditemukan dan diamankan. Jika tenggelam, justru akan lebih berisiko karena dapat menjadi ancaman bagi keselamatan pelayaran,” kata Takwim.
Selain operasi di lapangan, KSOP Batam juga mengaktifkan sistem peringatan navigasi melalui Vessel Traffic Service (VTS) Batam. Peringatan disampaikan secara berkala kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Singapura dan perairan Batam agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya kontainer yang masih hanyut.
“Kami memberikan informasi melalui VTS kepada seluruh kapal yang melalui jalur ini untuk berhati-hati dan terus memantau kondisi perairan,” ujarnya.
Meski insiden tersebut melibatkan kapal yang tenggelam di jalur internasional, hingga kini belum ditemukan dampak signifikan terhadap lingkungan laut di wilayah Batam. KSOP memastikan pemantauan terus dilakukan, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kebocoran bahan bakar atau pencemaran lain yang dapat terbawa arus ke wilayah Indonesia.
“Sejauh ini kami belum melihat potensi pencemaran lingkungan, khususnya dari bahan bakar akibat kecelakaan tersebut. Namun kami tetap menyiapkan langkah antisipasi. Jika terlihat adanya potensi pencemaran, kami akan segera melakukan penanganan, khususnya yang masuk ke wilayah Batam,” tegas Takwim.
KSOP Batam juga telah berkoordinasi dengan otoritas Singapura terkait penanganan kontainer yang hanyut. Selain menjaga keselamatan pelayaran, koordinasi tersebut diperlukan untuk menentukan langkah penanganan terhadap kontainer yang merupakan hak dan tanggung jawab pemilik muatan.
Di tengah masih berlangsungnya investigasi penyebab tenggelamnya MV Golden Star 1, upaya pencarian dan pengamanan kontainer terus menjadi perhatian utama. Pasalnya, keberadaan puluhan kontainer yang belum ditemukan berpotensi menjadi ancaman nyata bagi lalu lintas kapal di perairan Batam yang setiap hari dipadati aktivitas pelayaran domestik maupun internasional. (*)

