
batampos– Dinas Pendidikan Kota Batam memberlakukan sistem belajar dari rumah atau daring kepada seluruh siswa yang terdampak relokasi di Rempang. Sebelumnya siswa turut menjadi korban ketika proses relokasi berlangsung.
“Kami akan cabut aturannya kalau kondisi sudah kondusif. Hingga kini mereka masih ditugaskan belajar di rumah, dan belum diperbolehkan kembali ke sekolah,” kata Kepala Disdik Batam, Tri Wahyu Rubianto usai menghadiri acara Karnaval Budaya di MB 2, Sabtu (9/9) pagi.
Ia menjelaskan kondisi yang terjadi beberapa hari lalu cukup membuat sedih dunia pendidikan. Tri berharap ke depan hal ini tidak terulang. Karena ada rasa ketakutan yang timbul, usai anak-anak mendapat gangguan ketika bersekolah.
“Ini di luar perkiraan kami. Makanya saya pas rapat langsung bergegas untuk melihat kondisi anak-anak yang di rawat di rumah sakit. Saya berharap kejadian ini tidak terjadi lagi, saya juga mohon kepada semuanya, agar tidak terpancing,” ungkapnya.
Mengenai adanya guru yang turut diamankan saat kejadian beberapa waktu lalu, Tri menyebutkan menyerahkan sepenuhnya kepada ketentuan hukum. Hal ini karena di luar kewenangan Disdik Batam.
“Saya imbau ayok fokus pada pendidikan anak kita, pastikan anak memperoleh hak mereka,” sebutnya.
Untuk rencana pengosongan sekolah, ia mengungkapkan belum ada informasi terkait hal ini. Pihaknya juga menunggu dari BP Batam terkait relokasi sekolah, dan aset milik pemerintah lainnya. Konsentrasi Disdik adalah memastikan sekolah tujuan bagi anak-anak nanti tersedia.
“Untuk pendistribusian tergantung lokasi tinggal mereka. Kami upayakan paling dekat dari rumah mereka. Namun jika tak ada sekolah terdekat, kami sudah berkoordinasi dengan Dishub untuk membantu mobilisasi siswa dengan bus sekolah nantinya,” terang Tri.
Sekolah yang nanti menjadi tujuan, juga diminta membantu siswa menyesuaikan diri. Jangan sampai ada siswa yang mengalami tindakan diskriminasi, atau bullying ketika mereka dipindahkan.
“Saya pastikan sekali soal ini. Ketika mereka sekolah di tempat baru, saya sudah minta seluruh guru membantu. Psikologis mereka juga menjadi perhatian dari kami,” tutupnya. (*)
reporter: yulitavia

