Senin, 4 Mei 2026

Perang Russia – Ukraina Berdampak pada Harga Minyak dan Inflasi Batam

Berita Terkait

 

batampos – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Rahmad Iswanto, mengaku belum bisa memastikan dampak ekspor manufaktur perusahaan asal Rusia di Kota Batam usai pemboikotan sejumlah negara terhadap invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.

”Kami belum bisa memastikan dampaknya seperti apa. Tapi kalau dilihat rilis yang akan kami keluarkan awal bulan ini, memang di Januari belum berdampak. Karena invasi dilakukan akhir Februari, dan ini baru bisa diketahui dampaknya di awal April 2022 nanti,” ujarnya kepada Batam Pos, Selasa (1/3/2022).

Ilustrasi. Inflasi. Foto: JawaPos.com

Rahmad mengaku, pihaknya sudah berkonsultasi dengan Himpunan Kawasan Industri (HKI) dan juga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam terkait dampak invasi Rusia ke Ukraina terhadap industri manufaktur di Kota Batam. Karena, sebagaimana diketahui ada beberapa perusahaan asal Rusia yang beroperasi di Kota Batam.

”Kami sudah konsultasi dan kawan-kawan di HKI dan Apindo juga belum melihat dampaknya secara ekonomi. Termasuk dampak terhadap aktivitas perdagangan internasional di Kota Batam. Mudah-mudahan saja tak berdampak,” tuturnya.

Selain itu, pihaknya juga belum mengetahui sanksi yang diberikan berbagai negara terhadap Rusia ini sejauh mana. Apakah memang sampai perusahaan-perusahaan asal Rusia akan berdampak atau hanya pada investasi yang dilakukan pemerintah Rusia.

”Kalau untuk swasta juga saya pikir belum tersentuh, karena sebagaimana diketahui Rusia ini negara besar, kalau semua diboikot atau diblokir secara keseluruhan, semua negara akan terguncang karena dampaknya cukup besar,” ungkap Rahmad.

Namun yang jadi perhatian semua pihak saat ini, lanjutnya, harga minyak dunia akan melonjak naik signifikan efek invasi Rusia ke Ukraina. Pasalnya, Rusia menjadi negara ketiga terbesar dalam menyuplai migas di dunia.

”Ini sebenarnya yang perlu kita perhatikan. Sekarang bisa kita lihat bahwa grafik per barel saja untuk minyak internasional sudah mulai naik dan grafiknya terus naik,” beber Rahmad.

Imbasnya tentu kepada harga minyak. Pemerintah secara langsung dan tidak langsung tentu akan melakukan penyesuaian harga. Terlebih lagi, sebelum invasi harga minyak dunia juga terus mengalami kenaikan dan multiefeknya jelas kepada bahan-bahan pokok di masyarakat.

”Ini yang perlu kita khawatirkan dan menjadi perhatian semua. Kemarin, dari hasi rilis terakhir inflasi ikut disumbang oleh kenaikan minyak ini, dan multiplier effect ke beberapa komoditas bahan pokok pasti mengalami kenaikan harga,” jelasnya.

Diketahui, harga minyak melonjak setelah Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) memberlakukan sanksi pada bank-bank Rusia. Sanksi yang diberikan pada Rusia ini memicu kekhawatiran pasokan energi akan terpengaruh secara tidak langsung.

Harga minyak mentah Brent yang merupakan harga minyak acuan internasional, naik 7% hingga diperdagangkan setinggi 105 miliar dolar Amerika per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, patokan AS, juga naik sebanyak 7% diperdagangkan di atas 98 miliar dolar Amerika per barel.

Kedua kontrak tembus di atas 100 miliar dolar Amerika pada Kamis untuk pertama kalinya sejak 2014 setelah Rusia menginvasi Ukraina. Namun, lonjakan awal berumur pendek dengan WTI dan Brent turun sepanjang sesi Kamis dan Jumat pagi setelah sanksi putaran pertama Gedung Putih namun tidak menargetkan sistem energi Rusia.

Di tempat terpisah, Ketua Apindo Kota Batam, Rafki Rasyid, menilai, sanksi yang diberikan beberapa negara barat terhadap Rusia tidak akan berpengaruh signifikan terhadap ekspor perusahaan manufaktur yang ada di Kota Batam. Sanksi yang diberikan Singapura ke Rusia adalah larangan ekspor untuk produk yang bisa dijadikan sebagai senjata. Sementara Indonesia sendiri tidak memberikan sanksi untuk Rusia.

”Jadi, barang yang dikirim dari Batam ke Rusia ataupun negara lain tak akan begitu terpengaruh,” ujarnya, Selasa (1/3/2022).

Rafki hanya khawatir jika peperangan di Ukraina terus berlanjut, sanksi dari berbagai negara yang nantinya juga akan diikuti sanksi balasan dari Rusia dan sekutunya, sehingga lambat laun juga akan berpengaruh terhadap perdagangan dunia.

”Sehingga kita berharap agar perang di Ukraina ini bisa cepat selesai dan hendaknya tidak mengganggu perekonomian dunia yang baru mulai bangkit setelah dihantam badai Covid-19,” bebernya. (*)

 

Reporter : Rengga Yuliandra

UPDATE