
batampos – PT Puri Global Sukses (PGS) Tbk menatap tahun 2026 dengan optimisme tinggi. Pengembang properti yang berbasis di Batam itu menargetkan pendapatan sebesar Rp78,57 miliar dan laba bersih Rp3,98 miliar, ditopang penyelesaian sejumlah proyek strategis serta penjualan apartemen Monde City.
Target tersebut dipaparkan manajemen dalam kegiatan Public Expose yang digelar di kantor perusahaan kawasan Pasir Putih, Bengkong, Senin (15/6).
Secretary Corporate PT PGS, Jessica, mengatakan peningkatan kinerja tahun depan akan ditopang oleh proses serah terima unit yang mulai berjalan serta kontribusi penjualan proyek yang saat ini tengah dikembangkan.
Baca Juga: Apartemen The Monde City Mulai Serah Terima Kunci, Hunian Strategis di Jantung Kota Batam
“Seiring dengan rencana penyelesaian penyerahan unit, perseroan menargetkan pendapatan tahun 2026 sebesar Rp78,57 miliar atau meningkat sekitar 47,63 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Selain itu, laba bersih tahun 2026 ditargetkan mencapai Rp3,98 miliar,” ujar Jessica.
Untuk merealisasikan target tersebut, perseroan menyiapkan tiga proyek utama dengan total nilai investasi mencapai Rp880 miliar.
Proyek pertama adalah pengembangan The Monde City Phase 2 dengan nilai investasi Rp280 miliar dan rencana pembangunan 120 unit. Selanjutnya Monde Raffle Business District senilai Rp100 miliar yang mencakup pembangunan 46 blok ruko dan kawasan bisnis.
Sementara proyek terbesar adalah Tembesi Residence, pengembangan kawasan perumahan seluas 10 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp500 miliar.
Selain menggenjot pembangunan proyek baru, perusahaan juga terus memperkuat strategi bisnis melalui pengembangan rantai pasok (supply chain), pengelolaan aset yang lebih produktif, serta efisiensi struktur permodalan.
Di sisi lain, PGS mengakui industri properti Batam masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya keterbatasan lahan strategis yang semakin sulit diperoleh seiring terbatasnya ruang pengembangan di Kota Batam.
Menurut manajemen, sebagian besar wilayah Batam merupakan kawasan dengan fungsi tertentu sehingga lahan yang siap dikembangkan untuk hunian maupun kawasan komersial semakin terbatas.
Meski demikian, sepanjang 2025 perusahaan mengaku tidak menghadapi hambatan signifikan yang memengaruhi operasional usaha.
Finance Advisor PT PGS, Ardi, mengatakan fokus perusahaan saat ini masih berada pada pengembangan perumahan, apartemen, ruko, dan lahan. Karena itu, rencana ekspansi ke sektor perhotelan masih akan dikaji lebih lanjut.
“Untuk rencana mendirikan hotel, kami masih harus mempelajari terlebih dahulu aspek delivery atau penyerapannya di pasar. Apabila faktor tersebut memungkinkan, tidak menutup kemungkinan pada tahap berikutnya akan kami rencanakan. Namun saat ini fokus kami masih pada pembangunan rumah, ruko, apartemen, dan tanah yang kami kembangkan,” katanya.
Untuk mendukung seluruh agenda bisnis tersebut, perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp77,52 miliar pada 2026.
Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan anggaran capex 2025 yang mencapai Rp101,1 miliar. Dari angka tersebut, realisasi penggunaan dana tercatat Rp100,56 miliar atau hampir 100 persen dari target.
Manajemen menjelaskan penurunan anggaran capex terjadi karena sejumlah proyek kini telah memasuki tahap penyelesaian sehingga kebutuhan investasi tidak sebesar saat fase konstruksi awal.
Hingga pertengahan 2026, realisasi penggunaan capex telah mencapai sekitar Rp28 miliar atau 36,71 persen dari total anggaran yang disiapkan.
Sementara itu, Haed Of Legal PT PGS, Fajar, menyebut perubahan regulasi, proses perizinan, birokrasi, hingga kondisi ekonomi makro masih menjadi faktor yang perlu dicermati oleh pelaku industri properti.
“Kita juga melihat perkembangan kondisi ekonomi saat ini karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap prospek usaha ke depan,” ujarnya.
Di tengah tantangan tersebut, PGS optimistis mampu bersaing karena seluruh proyek yang dikembangkan berada di lokasi strategis dan mengusung konsep kawasan terpadu.
Jessica mengatakan perusahaan mengembangkan konsep lifestyle living yang mengintegrasikan hunian, area komersial, dan fasilitas pendukung dalam satu kawasan.
“Seluruh proyek yang kami kembangkan berada di lokasi strategis dan dekat dengan berbagai pusat aktivitas masyarakat. Konsep pengembangan terpadu ini tidak hanya memberikan kenyamanan bagi penghuni, tetapi juga menawarkan prospek investasi yang menarik,” katanya.
Menurut dia, kombinasi lokasi strategis, konsep kawasan terintegrasi, serta tingginya kebutuhan pasar properti di Batam menjadi modal utama perseroan untuk mendorong pertumbuhan usaha sekaligus meningkatkan nilai investasi bagi konsumen maupun investor. (*)

