
batampos – Suara riuh anak-anak yang membaca buku bersahut-sahutan dengan semilir angin pesisir di kawasan Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu, Sambau, Nongsa, Sabtu, (4/7). Di tengah hamparan hutan mangrove, lebih dari seratus pelajar dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah di Kota Batam mengikuti kegiatan yang menggabungkan literasi dan edukasi lingkungan.
Kegiatan yang digagas Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia lokus Batam itu tidak sekadar mengajak peserta membaca buku. Mereka juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga ekosistem pesisir melalui kegiatan mendongeng, membaca bersama, edukasi lingkungan, hingga penanaman mangrove.
Koordinator RELIMA Perpusnas RI Lokus Batam, Rita Fatimah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya mengintegrasikan budaya literasi dengan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa membaca tidak hanya dilakukan di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa menjadi sarana mengenal dan mencintai alam,” kata Rita.
Menurut Rita, kegiatan ini melibatkan siswa dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kota Batam dengan antusiasme yang tinggi. Selain RELIMA, kegiatan juga menggandeng komunitas anak muda peduli lingkungan, Ecovanguard, dalam kampanye pelestarian ekosistem pesisir.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi Kampung Dongeng yang dikemas melalui senam bersama, membaca buku, serta penyampaian cerita bertema lingkungan. Salah satu materi yang diperkenalkan kepada peserta adalah buku bertema “Museum Marina”, yang mengulas keterkaitan kehidupan laut dan daratan, termasuk peran penting ekosistem pesisir dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menghasilkan oksigen.
“Dari kegiatan ini, anak-anak dikenalkan bahwa laut yang sehat tidak bisa dipisahkan dari kondisi daratan yang baik. Mangrove dan terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga bersama,” ujar Rita.
Dalam sesi edukasi lingkungan, peserta juga diajak memahami fungsi hutan mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir dari abrasi, habitat berbagai biota laut, serta penyangga ekosistem yang kini menghadapi ancaman penyusutan akibat aktivitas manusia.
Menurut Rita, pengenalan terhadap ekosistem secara menyeluruh menjadi penting untuk membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Ia menilai pendidikan lingkungan yang dikemas secara kreatif akan lebih mudah diterima oleh generasi muda.
“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Jika kesadaran itu dibangun sejak kecil, dampaknya akan lebih besar di masa depan,” katanya.
RELIMA berencana menjadikan kegiatan serupa sebagai agenda rutin. Ke depan, program edukasi tidak hanya berfokus pada pelestarian mangrove, tetapi juga pengelolaan sampah, pemilahan limbah rumah tangga, hingga edukasi daur ulang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur.
Rita menambahkan, RELIMA juga tengah menjajaki sinergi yang lebih luas dengan Pemerintah Kota Batam untuk memperkuat gerakan literasi berbasis lingkungan. Menurut dia, pihaknya baru saja melakukan audiensi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam dan mendapat respons positif.
“Dukungan pemerintah sangat penting agar gerakan literasi dan kepedulian lingkungan ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.

