Senin, 29 Juni 2026

123 Kasus IMS Terungkap, Dinkes Perkuat Skrining

Berita Terkait

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam terus memperkuat upaya pengendalian HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi. Selain tingginya mobilitas masyarakat sebagai kota perbatasan, rendahnya kesadaran kelompok berisiko untuk memeriksakan diri hingga stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi hambatan utama dalam penanggulangan penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan penanganan HIV dan IMS tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk menghilangkan stigma serta meningkatkan kesadaran melakukan pemeriksaan sejak dini.

“Stigma membuat banyak orang takut memeriksakan diri. Padahal layanan tes HIV dan pengobatan tersedia secara gratis. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat dan mencegah penularan kepada orang lain,” ujarnya.

Baca Juga: Dinkes Temukan 230 Kasus Baru per Mei 2026, Kasus HIV di Batam Masih Didominasi Usia Produktif

Berdasarkan data Dinkes Batam periode Januari-Mei 2026, ditemukan 123 kasus IMS. Sebagian besar penderita berasal dari kelompok usia produktif 25-49 tahun dengan total 68 kasus, disusul usia 20-24 tahun sebanyak 35 kasus dan usia 15-19 tahun sebanyak 17 kasus. Dari total kasus tersebut, 71 penderita merupakan laki-laki dan 52 perempuan.

Sementara itu, sebanyak 16.089 orang telah mengakses layanan pemeriksaan IMS selama Januari-Mei 2026. Dari jumlah tersebut ditemukan 123 kasus, dan 122 pasien telah mendapatkan pengobatan, menunjukkan tingginya capaian layanan dalam memastikan pasien memperoleh terapi.

Namun demikian, Didi mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Di antaranya rendahnya kesadaran populasi kunci, khususnya kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), untuk melakukan pemeriksaan rutin. Selain itu, penyebaran kelompok berisiko di berbagai lokasi membuat proses skrining menjadi lebih sulit.

Tantangan lain adalah masih adanya kawasan yang belum membuka akses bagi petugas kesehatan untuk melakukan skrining, tingginya mobilitas masyarakat Batam yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, rendahnya kepatuhan penggunaan kondom maupun Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP), keterbatasan ketersediaan obat IMS dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), serta masih banyak pasien yang datang berobat ketika kondisi penyakit sudah cukup berat.

“Pengobatan harus dijalani secara rutin. Jika pasien berhenti mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), risiko resistensi obat akan meningkat dan penanganannya menjadi lebih sulit,” katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinkes Batam terus memperluas layanan skrining HIV dan IMS di seluruh puskesmas dan rumah sakit, meningkatkan edukasi kepada kelompok berisiko, memperkuat promosi penggunaan kondom dan PrEP, serta mengajak masyarakat menghentikan stigma terhadap ODHA.

Didi menegaskan, keberhasilan pengendalian HIV dan IMS bukan hanya diukur dari jumlah kasus yang ditemukan, tetapi juga dari semakin banyaknya masyarakat yang bersedia melakukan pemeriksaan, mendapatkan pengobatan tepat waktu, serta tetap menjalani terapi hingga tuntas.

“Target kami bukan sekadar menemukan kasus, tetapi memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan dan memutus mata rantai penularan. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar target Three Zero, yaitu nol infeksi baru, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA, dapat tercapai,” tutupnya. (*)

UPDATE