
batampos – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Pasalnya, jumlah kasus Covid-19 yang semakin banyak dan menyebar serta terjadinya penularan lokal varian Omicron.
Bahkan, penularan Covid-19 juga terjadi di beberapa lingkungan sekolah, baik jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Sehingga, IDI berharap sekolah tatap muka ditiadakan sementara waktu dan anak-anak kembali belajar secara daring.
”Sampai kasus Covid-19 kembali turun,” kata Ketua IDI Kepri, dr Rusdani.
Rusdani mengatakan, ada penyebab yang mendorong IDI menyarankan anak-anak kembali bersekolah secara daring. Dari beberapa kasus Covid-19 yang menjadi analisis IDI, anak-anak bahkan menjadi kurir Covid-19.
Ia menjelaskan, saat anak-anak terjangkit Covid-19, mereka tidak menunjukkan gejala sama sekali. Bahkan, terlihat sangat sehat.
Namun, begitu dilakukan tes swab, ditemukan virus tersebut di dalam tubuh anak-anak.
”Jadi, anak-anak ini bisa membawa virus ini ke rumah-nya masing-masing,” ujarnya.
Kedisplinan orang dewasa saja dinilai masih rendah dalam penerapan protokol kesehatan (protkes). Apalagi, bagi anak-anak yang selalu suka bermain bersama teman-temannya.
”Kami khawatir, anak-anak ini menularkan ke orang-orang yang rentan. Misalkan di rumahnya ada kakek dan neneknya, atau adiknya yang masih bayi,” ucapnya.
Para lansia, kata Rusdani, adalah kelompok yang sangat riskan saat terpapar Covid-19. Sehingga, para lansia harus diberikan proteksi lebih. Salah satunya, dengan vaksin.
Namun, di Kepri banyak lansia tidak mendapatkan vaksin, akibat memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Rusdani mengatakan, kasus Covid-19 yang terjadi di awal Februari adalah pintu menuju gelombang ketiga.
Sehingga, masyarakat harus kembali meningkatkan protkes yang selama ini kendor.
”Saya rasa, jika masyarakat semakin patuh. Bisa jadi dapat menurunkan penularan,” tuturnya.
Reporter: Fiska Juanda

