
batampos – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Rahmad Iswanto, mengatakan, belum bisa memastikan dampak ekspor manufaktur perusahaan asal Rusia di Kota Batam usai pemboikotan sejumlah negara terhadap invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.
“Kita belum bisa memastikan dampaknya seperti apa. Tapi kalau dilihat rilis yang akan kami keluarkan awal bulan ini, memang di Januari belum berdampak. Karena invasi dilakukan akhir Februari dan ini baru bisa ketahui dampaknya di awal April 2022 nanti,” ujarnya.
Rahmad mengaku, pihaknya sudah berkonsultasi dengan Himpunan Kawasan Industri (HKI) dan juga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam terkait dampak invasi Rusia ke Ukraina terhadap industri manufaktur di Kota Batam.
Karena sebagaimana diketahui ada beberapa perusahaan asal Rusia yang beroperasi di Kota Batam.
“Kita sudah konsultasi dan kawan-kawan di HKI dan Apindo juga belum melihat dampaknya secara ekonomi. Termasuk dampak terhadap aktifitas perdagangan internasional di Kota Batam. Mudah-mudahan saja gak berdampak,” tuturnya.
Selain itu pihaknya juga belum mengetahui sanksi yang diberikan negara terhadap Rusia ini sejauh mana. Apakah memang sampai perusahaan-perusahaan asal Rusia akan berdampak atau hanya pada investasi yang dilakukan pemerintah Rusia.
“Kalau untuk swasta juga saya pikir akan belum tersentuh, karena sebagaimana diketahui Rusia ini negara besar kalau semua diboikot atau diblokir secara keseluruhan semua negara akan terguncang karena dampaknya cukup besar,” ungkap Rahmad.
Namun yang jadi perhatian semua pihak saat ini, lanjutnya, harga minyak dunia akan melonjak naik signifikan karena efek invasi Rusia ke Ukraina. Karena sebagaimana diketahui, Rusia menjadi negara ketiga terbesar dalam menyuplai migas di dunia.
“Ini sebenarnya yang perlu kita perhatikan. Sekarang bisa kita lihat bahwa grafik per barel saja untuk minyak internasional sudah mulai naik dan grafiknya terus naik,” beber Rahmad.
Imbasnya, tentu kepada harga minyak di negara. Pemerintah secara langsung dan tidak langsung tentu akan melakukan penyesuaian harga. Terlebih lagi, sebelum invasi ini harga minyak dunia juga terus mengalami kenaikan harga dan multiefeknya jelas kepada bahan-bahan pokok di masyarakat.
“Ini yang perlu kita khawatirkan dan menjadi perhatian semua. Kemarin, dari hasi rilis terakhir inflasi ikut disumbang oleh kenaikan minyak ini, dan multiplayer efek ke beberapa komoditas bahan pokok pasti mengalami kenaikan harga,” jelasnya.
Diketahui, Harga minyak melonjak setelah Amerika Serikat (AS) dan negara Barat memberlakukan sanksi pada bank-bank Rusia sehingga memicu kekhawatiran pasokan energi akan terpengaruh secara tidak langsung.
Harga minyak mentah Brent yang merupakan harga minyak acuan internasional, naik 7% hingga diperdagangkan setinggi US$105 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, patokan AS, juga naik sebanyak 7% diperdagangkan di atas US$ 98 per barel.
Kedua kontrak tembus di atas US$ 100 pada hari Kamis untuk pertama kalinya sejak 2014 setelah Rusia menginvasi Ukraina. Namun, lonjakan awal berumur pendek dengan WTI dan Brent turun sepanjang sesi Kamis dan Jumat pagi setelah sanksi putaran pertama Gedung Putih namun tidak menargetkan sistem energi Rusia.
Reporter: Rengga Yuliandra



