Senin, 16 Maret 2026

Dulu Tempat Buang Sampah, Sekarang Masuk 50 Besar Nominasi Desa Wisata se-Indonesia

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad, berbincang dengan salah seorang warga di Kampung Tua Bakau Serip. Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Nongsa berhasil masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Nongsa berhasil masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022. Padahal dulunya, kawasan Kampung Tua ini pernah menjadi tempat pembuangan sampah.

Yashinta, Batam

batampos – Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 merupakan salah satu program pengembangan kepariwisataan Indonesia yang sedang digalakkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Program ini diharapkan mampu mewujudkan visi “Indonesia sebagai Negara Tujuan Pariwisata Berkelas Dunia, Berdaya Saing, Berkelanjutan dan Mampu Mendorong Pembangunan Daerah dan Kesejahteraan Rakyat”. Kemenparekraf menargetkan 3.000 desa wisata untuk mengikuti ADWI 2022.

Tujuan acara Program “Anugerah Desa Wisata (ADWI) 2022” agar desa wisata di seluruh Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Marauke yang memiliki daya tarik wisata tergerak untuk mendaftarkan desanya ke dalam program “Anugerah Desa Wisata (ADWI) 2022”.

Tidak hanya itu kegiatan ini juga bisa membangun motivasi dan menggali potensi-potensi desa wisata bagi pengembangan desa dan menjadi penggerak ekonomi tingkat desa melalui desa wisata.

Di Kepri, tepatnya di Kelurahan Sambau Kecamatan Nongsa Kota Batam, Ekowisata Mangrove Pandang Kampung Tua Bakau Serip, masuk sebagai 50 besar nominasi ADWI.

Kampung Tua Bakau Serip adalah bermukimnya masyarakat tempatan yang masih memegang teguh budaya tempatan kampung tua daerah pesisir.

Banyak orang yang mengatakan daerah ini yaitu nongsa merupakan cikal bakal berdirinya kota Batam.

Kawasan ini memiliki potensi wisata alam dengan keberagaman Flora dan Fauna, Konservasi Mangrove, Edukasi serta wisata pantai.

Salah satunya terdapat bakau-bakau berusia puluhan hingga ratusan tahun yang dilestarikan. Padahal dulunya, kawasan seluas 10 hektar ini dijadikan salah satu tempat pembuangan sampah.

Pengelola Ekowisata Mangrove Pandanv Tak Jemu, Kampung Tua Bakau Serip, Gery, mengatakan, butuh perjuangan luarbiasa menjadi kawasan tersebut sebagai tempat wisata.

Apalagi dulunya, lokasi yang memiliki 80 kepala keluarga (KK) tersebut kerap dijadikan tempat pembuangan sampah.

“Dulunya mata pencarian masyarakat nelayan. Desa ini juga menjadi tempat pembuangan sampah, yang pastinya Mas Sandi (Menparakraf) tak akan minat kesini. Tapi itu dulu,” ujar Gery menjelaskan kondisi Kampung Tua Bakau Serip dulunya.

Sekarang Gery bisa berbesar hati dan berbangga. Apalagi Kementrian Parekraf mengumumkan Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Kampung Tua Bakau Sirip masuk 50 nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022.

Keberhasilan itu tentunya tak lepas dari peran pemerintah Kota Batam dan Kepri. Apalagi Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu memiliki 7 kategori penilaian sebagai desa wisata, diantaranya Daya Tarik Pengunjung ,Homestay, Toilet Umum, Sovenir, Digital dan Kreatif, Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability (CHSE)
dan Kelembagaan.

Menparekraf Main Sepak Takraw

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan, program desa wisata adalah wisata yang berkelanjutan dan berkualitas.

Sehingga bisa membuka peluang usaha dan juga membuka lapangan pekerjaan. Kemenparekraf menyakini desa wisata bisa menciptakan peluang pekerjaan sebanyak 1,7 juta orang, efektif untuk memberikan solusi terhadap masalah tenaga kerja yang meningkat di masa pandemi.

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip adalah desa wisata dengan paket komplit, dalam desa wisata ini ditonjolkan wisata edukasi, konservasi dan rekreasi. Itu menunjukan bila lokasi tersebut bukan hanya tempat rekreasi namun bisa juga menjadi sarana edukasi dan konservasi.

“Apalagi saya dapat penjelasan tadi kalau siswa dari Singapura dan Malaysia berlibur mereka berkunjung ke Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip untuk belajar dan juga pengenalan konservasi hutan bakau,” tegasnya.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad, menandatangani prasasti Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu Nongsa berhasil masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Dengan kedatangan wisatawan negara tetangga ini maka bisa dimanfaatkan oleh UMKM untuk ikut menjual produk mereka sekaligus menjualnya. Selain itu, digitalisasi juga sangat penting guna memajukan UMKM di desa wisata tersebut.

“Untuk pemilihan 50 desa wisata kali ini ada 7 kategori, salah satunya digitalisasi,” ujarnya.

Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip yang ada di Batam, Kepulauan Riau masuk dalam nominasi 50 desa wisata yang akan bertanding dalam ADWI tahun 2022 ini.

Dalam kunjungannya, sandiaga Uno menyempatkan melihat anak-anak muda sedang bermain sepak takraw.

Dalam kesempatan tersebut dia juga diajak bermain bermain sepak takraw dan melawan Gubernur Kepulauan Riau.

Menurut Sandi sepak takraw adalah olahraga khas dari bangsa melayu, bahkan sudah ada pertandingannya di Sea Games dan event lainnya.

Namun ketika bermain, Sandi melihat kalau perlengkapan untuk bermain takraw net dan bola sudah tidak layak. Sehingga dia langsung memutuskan untuk memberikan Net dan bola sepak takraw yang baru.

Selanjutnya, Sandi juga menuju Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu sambil menyapa warga di sisi jalan dengan diiringi kesenian “Tabuh Kompang” Mas Menteri dan rombongan juga memakai ikat kepala khas melayu atau biasa disebut tanjak.

Sandi juga berkunjung ke Pasar Mangrove dimana dalam pasar tersebut ada produk UMKM seperti suvenir kuliner, kriya, fesyen khas Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip.

“Kita bisa lihat, ada tempat yang diperuntukan untuk UMKM khas desa wisata ini,” katanya.

Sandi mendapat penjelasan kalau Pasar Mangrove merupakan event regular seminggu sekali yang diadakan di Kampung Tua Bakau Serip.

Biasanya selain membuka stand UMKM aneka cemilan,jajanan kampung, hasil anyaman tas, kerajinan kerang, pakaian, pohon bonsai, kriya bahan non organik, ditampilkan juga kesenian dan budaya yang ada di Batam.

Sandi juga mengemukan pendapat pribadi nya terkait Ekowisata Mangrove Pandang Tak Jemu yang luar biasa. Ia kagum, karena di lokasi wisata itu wisatan tak hanya bisa berliburan, namun juga bisa belajar tentang ekosistem.

“Saya kagum, karena disini lengkap. Jadi uang untuk liburan tak terbuang sia-sia karena bisa sambil belajar. Saya sudah melihat sendiri bagaimana ekonomi kreatif ada di sini. Kita ciptakan kolaborasi, bagaimana anak-anak sekolah di Singapura saat musim libur bisa diajak mengunjungi Desa Wisata Bakau Serip,” ungkapnya.

Ditempat yang sama, Gubernur Kepri, Ansar Achmad, merasa bangga jika salah satu wilayah di Kepri, tepatnya di Batam masuk dalam nominasi Desa Wisata di Indonesia. Ia berharap, Kampung Tua Bakau Serip tersebut bisa mendapat juara.

“Kami akan dukung apapun itu kemajuan pariwisata Kepri termasuk Batam. Dan masuknya Ekowisata Mangrove Pandanv Tak Jemu ini adalah semua apresiasi untuk kami,” jelas Ansar.

Sementara, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi selain Kampung Tua Bakau Serip, pihaknya juga telah menyiapkan destinasi wisata baru untuk menarik wisatawan, seperti Taman Rusa Sekupang dan Masjid Tanjak.

Kemudian Desa Wisata Bakau Serip yang kini berhasil masuk 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia pada ADWI 2022.

Di tahun ini, ADWI 2022 mengangkat tema “Indonesia bangkit”. Tema ini diharapkan mampu mendorong semangat pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata untuk kembali bangkit pasca pandemi Covid-19.

“Desa wisata ini hadir di Kota Batam sejak Januari 2019 lalu dengan luas hutan 7 hektare. Kampung tua ini memiliki potensi wisata alam dengan keberagaman flora dan fauna, konservasi mangrove, edukasi serta wisata pantai,” ujar Rudi di sela mendampingi Menteri Sandiaga.

Kelebihan desa wisata ini, lanjut pria yang juga menjabat Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam itu, terdapat pasir putih di tengah hutan mangrove dan pemandangan yang menghadap ke negara Singapura dan Malaysia.

Dalam area tersebut, dibangun berbagai fasilitas untuk menunjang wisata, seperti panggung kesenian dan budaya, tracking mangrove restoran seafood, selfie area, toko cindera mata, toko sewa alat, serta dilengkapi panggung pertunjukan seni dan WiFi area.

Tak hanya fasilitas penunjang wisata, di Mangrove Pandang Tak Jemu pun dilengkapi dengan fasilitas penunjang kenyamanan wisata, seperti kamar mandi umum dan musholla.

“Desa Wisata Bakau Serip sebelumnya tahun 2021 pernah mengikuti kegiatan yang sama. Pada tahun itu, lolos 100 besar. Tahun 2022 ini masuk 50 besar,” katanya.

Rudi optimistis, dengan banyaknya destinasi wisata yang bermunculan akan menambah gairah wisatawan datang ke Batam.

Selain itu, perhatian Menparekraf terhadap Batam juga merupakan energi tersendiri bagi Batam untuk membangkitkan pariwisata.

“Pak Menteri beberapa kali sudah mengunjungi Batam. Semoga perhatian beliau akan menjadikan pariwisata Batam bangkit lagi,” ujarnya.(*)

SALAM RAMADAN