Jumat, 13 Maret 2026

Keunikan Ciri Khas Panggilan Orang Melayu Berdasar Silsilah Kelahiran

spot_img

Berita Terkait

spot_img

Ada yang berbeda pada tradisi orang Melayu dalam memanggil seseorang. Tak sekadar menyebut nama, mereka memberikan panggilan khusus sesuai silsilah atau urutan kelahiran sehingga lebih unik.

batampos – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Muhammad Zen, menuturkan, penggunaan nama panggilan sesuai urutan kelahiran ini agar memudahkan orang membedakan saat memanggil seseorang.

“Kalau sekarang misalnya memanggil saudara laki-laki ayah atau ibu dengan panggilan om atau paman, kalau perempuan bibik atau tante. Kalau saudara ayah atau ibu itu banyak, ya panggilannya semua sama. Jadi, biar berbeda, maka orang Melayu pakai panggilan sesuai urutan kelahiran,” kata Zen.

Adapun untuk membedakannya, sambung Zen, ada beberapa patokan dalam memanggil seseorang. Biasanya, tiga anak pertama jika laki-laki dipanggil Pak Long yang artinya Bapak Sulung.

Sementara anak yang berada di tengah, dipanggil Pak Ngah yang bermakna dia berada di tengah-tengah. Sedangkan anak terakhir dipanggil Pak Usuh atau Pak Ucuh atau Pak Suh.

“Tapi ada juga yang dipanggil sesuai fisiknya. Misalnya, di antara Pak Long dan Pak Ngah itu kalau dia pendek dipanggil Pak Anda, kalau dia tinggi dipangil Pak Anjang, kalau dia putih dipanggil Pak Oteh atau Mak Oteh, kalau dia hitam dipanggil Pak Hitam atau Mak Hitam, ini biasanya jumlah anak yang ganjil,” jelasnya.

Pegawai Disbudpar Batam melestarikan tradisi bersalam-salaman saat halalbihalal, beberapa waktu lalu. Salah satu tradisi Melayu yang juga dijaga adalah pemanggilan nama seseorang sesuai urutan kelahiran. Foto: Istimewa untuk Batam Pos

Sementara untuk anak yang dalam keluarga jumlahnya genap, menurut Zen agak susah mencari posisi yang di tengah.

Meski begitu, biasanya jumlah mereka akan dibagi dua dan yang berada pada hasil pembagian itu yang akan dipanggil sebagai Pak atau Mak Ngah.

“Contoh anaknya 8 dibagi 2 jadi 4. Berarti anak ke-4 dipanggil Pak Ngah dan anak kelima dipanggill Pak Alang atau Mak Alang,” tutur pria yang juga menjabat Kepala Biro Penelitian dan Penulisan Adat Istiadat Melayu dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam tersebut.

Sedangkan untuk mencari anak yang muda atau bungsu pada anak ketujuh, disebut Pak Ude atau Bapak Muda karena mendekati bungsu.

Zen melanjutkan, bagi orang yang tak mengetahui silsilah atau urutan kelahiran pada suatu keluarga, biasanya mereka dipanggil secara umum.

“Kalau setingkat atau seusia paman atau tante yang belum kita kenal, bisa juga dipanggil Pak Cik atau Mak Cik,” sebutnya.

Seiring waktu, Zen tak menampik pemanggilan dengan penyebutan sesuai urutan kelahiran itu lambat laun mulai ditinggalkan. Padahal, puluhan tahun lalu, panggilan itu masih lazim digunakan.

“Pada generasi saya yang kelahiran tahun 1960-an dan 1970-an masih pakai, tapi sekarang mulai berbeda karena kebanyakan memanggil om dan tante,” tutur dia.

Meski begitu, Zen mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya agar tradisi tak benda semacam ini tidak hilang begitu saja. Pasalnya, ini menjadi salah satu ciri khas dan khazanah budaya Melayu.

“Kami buatkan seminar atau kami datangi sekolah-sekolah untuk mengedukasi tentang warisan tak benda semacam ini. Kami juga anjurkan orangtua tetap membiasakan pemanggilan semacam ini,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, pihaknya selama ini konsen untuk merawat tradisi maupun budaya, baik itu berupa benda maupun tak benda.

Tujuannya, agar budaya Melayu yang memayungi budaya-budaya lain di Kota Batam terus lestari hingga anak cucu nanti.

“Kita harus menjadi bagian dari upaya merawat tradisi tersebut, sehingga generasi setelah kita juga akan menerapkan hal serupa,” ujarnya. (*)

Reporter: Ratna Irtatik

SALAM RAMADAN