Kamis, 15 Januari 2026

Kasus DBD Batam Turun, Pola Musiman Tunjukkan Ancaman Berulang

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi demam berdarah.

batampos – Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam menurun pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Namun pola fluktuasi bulanan yang muncul setiap pertengahan hingga akhir tahun kembali menegaskan bahwa ancaman DBD masih bersifat musiman dan perlu diantisipasi secara serius.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat total 809 kasus DBD pada tahun 2025, lebih rendah dari 871 kasus pada 2024. Penurunan ini turut tercermin melalui angka Incidence Rate (IR) yang turun dari 68,21 per 100 ribu penduduk pada 2024 menjadi 60,28 per 100 ribu penduduk pada 2025.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan bahwa tren penurunan ini merupakan hasil gabungan dari intervensi pemerintah dan keterlibatan masyarakat dalam pencegahan.

“Secara kumulatif, kasus DBD di Batam pada 2025 menurun dibandingkan 2024. Ini menunjukkan bahwa upaya pemberantasan sarang nyamuk, fogging fokus, dan edukasi mulai memberikan dampak,” katanya, Jumat (9/1).

Baca Juga: Pedestrian Nagoya Heritage akan Dibangun, Nagoya-Jodoh Disiapkan Jadi Ikon Wisata Belanja

Meskipun secara tahunan terjadi penurunan, analisis distribusi bulanan menunjukkan bahwa pola kenaikan musiman masih berulang, terutama pada pertengahan hingga akhir tahun.

Pada 2024, lonjakan dimulai sejak Juli, dan meningkat terus hingga tutup tahun. Detailnya Juli 126 kasus, Agustus 112 kasus, September 76 kasus, Oktober 96 kasus, November 125 kasus, Desember 149 kasus (tertinggi dalam enam tahun terakhir).

Pola ini mengulang kecenderungan yang juga terlihat pada tahun-tahun sebelumnya, seperti 2022 yang mencapai 98 kasus di Juli dan 89 kasus di Agustus, serta 2019 yang mencatat 91 kasus pada Juli.

Dari grafik historis DBD 2018-2024, hampir semua tahun menunjukkan grafik yang kembali menanjak pada Juli-November. Menurut Didi, fenomena ini berkaitan erat dengan faktor cuaca dan lingkungan.

“Biasanya lonjakan terjadi saat musim hujan dan peralihan cuaca. Meskipun total kasus menurun, pola musiman ini tetap harus diantisipasi karena potensi peningkatan bisa terjadi kapan saja,” ujarnya.

Jika ditarik dalam rentang enam tahun terakhir, kasus DBD di Batam menunjukkan pola siklikal. Pada 2018 sebanyak 639 kasus (IR 50), 2019 ada 728 kasus (IR 52,82), di 2020 ada 763 kasus (IR 53,66) 2021 sebanyak 710 kasus (IR 59,36), 2022 ada 902 kasus (IR 56,12), di 2023 terdapat 392 kasus (IR 23,43), dan 2024 sebanyak 871 kasus (IR 68,21).

Didi bilang, pola naik-turun ini mengindikasikan bahwa keberhasilan pengendalian tidak boleh hanya mengandalkan satu tahun kerja.

“DBD bukan penyakit yang bisa dikendalikan hanya dalam satu tahun. Ketika kewaspadaan menurun, kasus bisa kembali naik. Karena itu, upaya pencegahan harus konsisten dan tidak musiman,” kata dia.

Baca Juga: Cegah Balap Liar, Polsek Seibeduk Siagakan Personel di Bagan

Di tengah penurunan kasus, angka kematian pada 2024 justru menjadi yang tertinggi dalam periode enam tahun terakhir. Terdapat 14 kasus kematian.

Dia mengatakan, tingginya angka fatalitas menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa deteksi dini dan penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien.

“Setiap kematian akibat DBD adalah alarm bagi kita semua. Penanganan cepat di fasilitas kesehatan sangat penting,” katanya.

Didi mengimbau masyarakat untuk terus melaksanakan 3M Plus, membersihkan lingkungan, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala demam tinggi mendadak, nyeri otot, atau tanda-tanda DBD lainnya.

“Keberhasilan pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran aktif masyarakat, terutama dalam menjaga lingkungan rumah masing-masing, sangat penting,” ujarnya. (*)

ReporterArjuna

Update