Kamis, 5 Februari 2026

BMKG: Curah Hujan di Kepri Rendah hingga Akhir Februari, Intensitas Meningkat di Maret

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Beberapa hari ini kota Batam mengalami cuaca panas. Terpancar terik matahari yang terjadi di kawasan Batamcenter. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Kepulauan Riau masih akan didominasi cuaca kering hingga akhir Februari 2026. Potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi diperkirakan baru mulai terjadi pada Maret, dan akan meningkat signifikan pada Mei mendatang.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Ramlan, mengatakan meski saat ini sudah memasuki periode kemarau, hujan masih berpeluang terjadi, namun bersifat ringan dan tidak merata.

“Dalam musim kemarau tetap ada hujan, tapi intensitasnya ringan, hujan-hujan tipis saja dan tidak seperti saat musim hujan,” kata Ramlan, Rabu (4/2).


Baca Juga: Hutan Dam Mukakuning Terbakar, Asap Tebal Ganggu Arus Lalu Lintas

Menurutnya, Februari menjadi salah satu bulan dengan tingkat curah hujan paling rendah dalam setahun. Kondisi ini berbeda dibandingkan Februari tahun lalu yang masih sesekali diguyur hujan.

“Februari ini curah hujannya rendah. Tahun lalu masih ada hujan sesekali, sekarang jauh berkurang,” ujarnya.

Ramlan menjelaskan, kondisi cuaca saat ini turut dipengaruhi oleh faktor global, seperti La Nina lemah, serta dinamika atmosfer regional, termasuk lebih seringnya muncul bibit siklon di wilayah selatan ekuator.

“Bibit siklon lebih sering terbentuk di selatan, seperti di selatan Jawa. Ini menyebabkan massa udara lebih banyak tertarik ke wilayah selatan, sehingga wilayah utara, termasuk Kepri, relatif lebih kering,” jelasnya.

BMKG mencatat, sebagian besar wilayah Kepulauan Riau telah mengalami lebih dari 15 hari tanpa hujan, yang sudah masuk kategori musim kemarau atau musim kering. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya potensi kekeringan dan kebakaran lahan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan titik panas (hotspot) di wilayah Kepri.

“Titik panas itu berbeda dengan titik api. Saat ini memang belum terdeteksi titik panas di Kepri. Namun karena kekeringan diperkirakan meningkat hingga akhir Februari, potensi kebakaran lahan dan hutan juga ikut meningkat,” tegas Ramlan.

Baca Juga: Diburu 8 Hari, Dua Tersangka Pengirim CPMI Ilegal Dibekuk di Lombok

Ia menyebutkan, tingkat kekeringan di setiap wilayah bisa berbeda-beda, tergantung kondisi tutupan lahan, suhu udara, kelembaban, serta kecepatan angin.

BMKG pun mengimbau masyarakat agar lebih waspada selama musim kemarau, terutama terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran.

“Di musim kemarau, ketersediaan air tanah umumnya berkurang. Masyarakat juga kami imbau tidak melakukan pembakaran lahan, terutama di kawasan perkebunan, lahan kosong, dan area yang mudah terbakar,” katanya.

Ramlan menyoroti kejadian kebakaran lahan yang sempat terjadi di Batam dalam beberapa waktu terakhir, termasuk laporan dua titik kebakaran yang terjadi pada malam sebelumnya.

“Pembakaran kecil sekalipun harus diawasi. Banyak kejadian api ditinggal dan akhirnya meluas. Ini yang harus dihindari,” ujarnya.

Terkait perkembangan cuaca ke depan, Ramlan menyebut hujan mulai berpeluang terjadi kembali pada awal Maret, dengan intensitas yang perlahan meningkat.

“Mulai Maret potensi hujan sudah ada, dan intensitasnya akan meningkat lagi pada Mei,” pungkasnya. (*)

ReporterYashinta

Update