
batampos- Dunia usaha di Kota Batam mulai menghadapi tekanan pada awal tahun 2026. Dalam tiga bulan terakhir, pelaku industri merasakan kenaikan biaya produksi di tengah ketidakpastian global yang turut memengaruhi kinerja ekspor.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, mengatakan kondisi usaha saat ini belum sepenuhnya melambat, namun tidak lagi se-ekspansif tahun sebelumnya. Tekanan utama datang dari lonjakan biaya bahan baku dan terganggunya rantai pasok global.
“Yang paling terasa sekarang adalah kenaikan biaya pokok produksi. Ini dipicu oleh naiknya harga komponen impor seperti chip elektronik yang mengalami kelangkaan global,” ujarnya, Selasa (14/4).
Menurut Rafki, krisis semikonduktor tidak hanya dipengaruhi konflik geopolitik, tetapi juga tingginya permintaan dunia dan gangguan distribusi. Dampaknya sangat dirasakan oleh industri elektronik Batam yang bergantung pada komponen tersebut.
Selain itu, harga bahan baku lain seperti plastik juga mengalami kenaikan, yang turut menambah beban biaya produksi perusahaan.
Tekanan terhadap dunia usaha diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Rafki menyebut biaya logistik berpotensi meningkat seiring naiknya harga avtur dan kemungkinan penyesuaian harga BBM non-subsidi.
“Sekarang mungkin belum terlalu terasa, tapi ke depan biaya logistik hampir pasti naik. Ini akan berdampak langsung pada biaya distribusi,” jelasnya.
Kekhawatiran juga muncul dari sektor energi, khususnya gas. Jika pasokan gas global terganggu, terutama dari kawasan Timur Tengah, maka harga gas bisa melonjak dan berdampak pada tarif listrik industri.
“Kalau harga gas naik, maka tarif listrik juga berpotensi ikut naik. Bahkan di beberapa kawasan industri, sudah mulai ada penyesuaian tarif listrik,” katanya.
Dari sisi permintaan, belum ada laporan signifikan terkait penurunan order, khususnya dari pasar ekspor. Namun, data menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan ekspor dibandingkan periode sebelumnya.
“Secara data sudah terlihat ada perlambatan. Ini harus menjadi lampu kuning bagi kita semua, karena Batam sangat bergantung pada pasar ekspor,” ungkap Rafki.
Ia menilai perlambatan ini tidak lepas dari kondisi global, termasuk konflik geopolitik yang memengaruhi permintaan dan distribusi barang di pasar internasional.
Hampir seluruh sektor usaha disebut mengalami tekanan serupa, terutama akibat kenaikan biaya produksi dan ketidakpastian pasar.
Di tengah tekanan tersebut, Rafki memastikan belum ada tren pengurangan tenaga kerja secara signifikan di Batam. Namun, ia mengingatkan risiko tersebut tetap ada jika kondisi terus memburuk.
“Belum ada laporan PHK. Tapi kita tidak bisa menjamin ke depan, karena tekanan ke perusahaan cukup besar dari berbagai sisi,” katanya.
Ia berharap kondisi tidak sampai memaksa perusahaan melakukan efisiensi ekstrem, termasuk pengurangan tenaga kerja.
Meski menghadapi berbagai tantangan, pelaku usaha di Batam masih menyimpan optimisme terhadap prospek 2026. Harapan utama bertumpu pada membaiknya kondisi global, terutama meredanya konflik yang memicu gangguan rantai pasok.
“Kita masih optimistis, dengan catatan kondisi global bisa membaik. Kalau konflik mereda, biaya produksi bisa turun dan permintaan kembali meningkat,” ujarnya.
Rafki juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas dunia usaha, terutama melalui kebijakan yang dapat menekan biaya produksi.
“Kita berharap ada langkah mitigasi dari pemerintah untuk membantu pelaku usaha, khususnya terkait energi, logistik, dan stabilitas harga bahan baku,” tutupnya.(*)



