Jumat, 8 Mei 2026

Delapan Hari Hanyut di Laut, Dua Nelayan Batam Pulang dari Malaysia dengan Selamat

Berita Terkait

Nelayan foto bersama dengan petugas setelah dijemput dari perairan perbatasan Malaysia. F. Istimewa

batampos – Dua nelayan asal Pulau Pecong, Kota Batam, akhirnya kembali berkumpul dengan keluarga setelah sempat hanyut di laut selama delapan hari akibat kerusakan mesin pompong saat melaut.

Kedua nelayan tersebut ditemukan dan ditolong oleh nelayan Malaysia sebelum akhirnya dibawa ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Malaysia untuk proses penanganan lebih lanjut.

Proses penjemputan kedua nelayan dilakukan oleh Satuan Polisi Air (Polair) Polresta Barelang di wilayah perbatasan perairan Indonesia-Malaysia, Kamis, (7/5).

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kepulauan Riau, Distrawandi, mengapresiasi gerak cepat seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemulangan nelayan tersebut.

Ia mengatakan, insiden bermula ketika kedua nelayan itu pergi memancing dari Pulau Pecong. Namun di tengah perjalanan, mesin pompong yang mereka gunakan mengalami kerusakan hingga membuat mereka hanyut terbawa arus sampai masuk ke wilayah perairan Malaysia.

“Alhamdulillah mereka ditemukan nelayan Malaysia dan diamankan. Kemudian dibawa ke KJRI Malaysia sebelum dijemput oleh Polair Polresta Barelang di perbatasan,” kata Distrawandi.

Distrawandi bersama Wakil Ketua HNSI Kepri, Jeki, turut mendampingi proses kepulangan kedua nelayan tersebut dan memastikan kondisi mereka dalam keadaan sehat.

Ia menyebut, sekitar pukul 13.30 WIB kedua nelayan tiba dan langsung menjalani pendataan singkat sebelum dipulangkan ke keluarga masing-masing.“Alhamdulillah saya cek langsung kondisi fisik mereka, keduanya sehat walafiat. Yang paling penting, mereka juga pulang bersama alat tangkap dan pompongnya,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, HNSI Kepri menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kepri, Dinas Kelautan dan Perikanan, Polda Kepri, Polresta Barelang, khususnya Polair Polresta Barelang yang telah membantu proses penjemputan hingga nelayan bisa kembali dengan selamat.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada KSOP serta Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Batam yang ikut mendukung proses koordinasi.

Distrawandi mengatakan, wilayah perbatasan memang memiliki risiko tinggi bagi nelayan, terutama ketika menghadapi cuaca buruk atau gangguan teknis saat melaut.

Namun, hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, termasuk dukungan KJRI, dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat proses penyelamatan dan pemulangan nelayan.

“Ini menjadi bukti bahwa kerja sama lintas negara di wilayah perbatasan sangat penting untuk keselamatan nelayan kita. Kami sangat mengapresiasi dan berharap kerja sama seperti ini terus berjalan ke depannya,” katanya.

Saat ini, kedua nelayan tersebut telah kembali ke rumah masing-masing dan berkumpul bersama keluarga setelah melewati situasi yang cukup menegangkan di tengah laut.(*)

UPDATE