
batampos – Kota Batam kembali mencatatkan kenaikan inflasi pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) mencapai 3,99 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,14.
Kepala BPS Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan perkembangan harga berbagai komoditas sepanjang Mei 2026 secara umum menunjukkan tren kenaikan yang mendorong inflasi baik secara tahunan maupun bulanan.
“Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Batam, pada Mei 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,99 persen. Sementara inflasi bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,33 persen dan inflasi tahun kalender (year to date) sebesar 1,32 persen,” ujar Eko, Rabu (3/6).
Secara bulanan, inflasi terjadi karena IHK naik dari 112,77 pada April 2026 menjadi 113,14 pada Mei 2026.
Menurut Eko, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 11,35 persen, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,82 persen, serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,61 persen.
Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 4,18 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 2,45 persen, kelompok kesehatan 2,09 persen, pakaian dan alas kaki 1,90 persen, pendidikan 1,32 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,96 persen, informasi dan komunikasi 0,90 persen, serta perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga 0,76 persen.
Dari sisi komoditas, sejumlah barang dan jasa menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Batam. Di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, nasi dengan lauk, beras, rokok kretek mesin, sewa rumah, cabai rawit, daging ayam ras, biaya pendidikan perguruan tinggi, daging sapi, tomat, telur ayam ras, hingga bensin.
“Komoditas-komoditas tersebut memberikan andil cukup besar terhadap kenaikan harga secara tahunan,” kata Eko.
Sementara itu, beberapa komoditas tercatat menahan laju inflasi atau bahkan memberikan andil deflasi, seperti bawang putih, bawang merah, santan segar, kentang, susu bubuk, udang basah, wortel, sabun mandi cair, popok bayi sekali pakai, hingga pembersih lantai.
Untuk inflasi bulanan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 1,22 persen dan memberikan andil 0,35 persen terhadap inflasi Kota Batam pada Mei 2026.
Lonjakan harga sejumlah komoditas hortikultura menjadi faktor utama pendorong inflasi bulanan. Cabai merah tercatat menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,13 persen, diikuti tomat 0,10 persen, ketimun 0,06 persen, sawi hijau 0,05 persen, cabai rawit 0,04 persen, serta bawang merah dan tulang sapi masing-masing 0,02 persen.
“Selain bahan pangan, kenaikan harga bensin, pelumas kendaraan, sewa rumah, minyak goreng, dan air kemasan juga turut mendorong inflasi pada Mei lalu,” tambah Eko.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga menahan laju inflasi bulanan. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, udang basah, ikan layang, jagung manis, kentang, bayam, cumi-cumi, pepaya, kubis, dan gula pasir.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,61 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,75 persen, kelompok transportasi 0,58 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,54 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga pangan masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi tingkat inflasi di Batam, terutama pada komoditas hortikultura yang sangat dipengaruhi pasokan dan distribusi.(*)



