
batampos – Batam tengah bersiap memasuki era baru sebagai pusat data dan kecerdasan buatan nasional. Gelombang investasi data center bernilai puluhan hingga ratusan triliun rupiah mulai terealisasi dan sejumlah proyek raksasa sudah memasuki tahap pembangunan.
Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan pekerjaan rumah yang tak ringan. Industri data center dikenal sebagai sektor yang sangat rakus energi dan membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Sementara itu, persoalan listrik, ketersediaan air bersih, hingga kesiapan tenaga kerja lokal masih menjadi tantangan yang harus dijawab Batam.
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djamy Francis, mengatakan sejumlah proyek data center yang diumumkan dalam beberapa tahun terakhir kini mulai memasuki tahap realisasi investasi.
Salah satu yang sudah berjalan adalah proyek milik DayOne di kawasan Nongsa Digital Park. Nilai realisasi investasi perusahaan tersebut diperkirakan telah mencapai Rp4 triliun hingga Rp5 triliun.
”Mereka sudah beraktivitas dan terus melaporkan perkembangan investasinya melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM),” kata Fary, Rabu (3/6).
Baca Juga: Pelabuhan Kontainer Batam Makin Diminati
Menurut dia, investasi yang masuk direalisasikan secara bertahap sesuai fase pembangunan masing-masing proyek. Sejumlah investor saat ini masih berada pada tahap konstruksi dan pengembangan fasilitas.
Masuknya industri data center membawa kebutuhan infrastruktur yang berbeda dibanding sektor manufaktur konvensional. Operasional pusat data membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil selama 24 jam tanpa henti untuk menjaga ribuan server dan sistem penyimpanan data tetap beroperasi.
Fary mengatakan kebutuhan tersebut telah diperhitungkan sejak awal oleh pemerintah bersama penyedia energi.
”Untuk kebutuhan listrik, pihak penyedia listrik tentu telah melakukan langkah-langkah strategis guna mendukung seluruh investasi yang masuk,” ujarnya.
Selain listrik, air bersih menjadi komponen penting dalam operasional data center. Air digunakan sebagai media pendingin untuk menjaga suhu perangkat dan server tetap stabil.
BP Batam telah memetakan kebutuhan air untuk mendukung kawasan data center yang berkembang di Batam. Saat ini kebutuhan yang diproyeksikan mencapai sekitar 150 liter per detik atau setara 9.000 liter per menit. Dalam jangka panjang, kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat hingga mencapai 404 liter per detik.
”Pasokan air yang disiapkan sekitar 150 liter per detik dari kebutuhan ultimate sebesar 404 liter per detik. Sisanya nanti akan didukung melalui sistem SWRO,” kata Fary.
SWRO (Sea Water Reverse Osmosis) merupakan teknologi pengolahan air laut menjadi air bersih yang disiapkan sebagai sumber pasokan tambahan untuk memenuhi kebutuhan industri pada masa mendatang.
Meski demikian, derasnya investasi data center memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Batam menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Tarif Listrik Nasional Ramai Dibahas, PLN Batam Pastikan Belum Ada Kenaikan
Pasokan air bersih masih menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan warga ketika debit sejumlah waduk menurun pada musim kemarau. Di saat yang sama, kebutuhan industri digital dipastikan terus meningkat seiring bertambahnya proyek yang beroperasi.
Direktur Politeknik Negeri Batam, Bambang Hendrawan, menilai Batam harus bergerak cepat menyiapkan diri menghadapi perubahan tersebut.
Menurut dia, Batam tidak bisa menunggu seluruh infrastruktur dan SDM benar-benar sempurna sebelum membuka diri terhadap investasi digital. Persaingan menarik investasi data center saat ini berlangsung sangat ketat di tingkat regional.
Ia menyebut Johor di Malaysia dan sejumlah kawasan di Vietnam juga tengah berlomba menjadi pusat data digital Asia Tenggara.
”Batam harus siap dan harus mulai menyiapkan diri dari sekarang. Kalau menunggu semuanya sempurna, kita bisa kehilangan momentum dan peluang investasi itu akan berpindah ke daerah atau negara lain yang lebih siap,” ujarnya.
Bambang mengakui kebutuhan listrik dan air bersih dalam jumlah besar menjadi tantangan utama yang harus segera diantisipasi pemerintah.
”Tantangannya adalah bagaimana kebutuhan listrik dan air untuk industri bisa terpenuhi tanpa mengganggu layanan kepada masyarakat. Investasi ini seharusnya menjadi pemicu peningkatan kapasitas infrastruktur secara menyeluruh, bukan sebaliknya,” katanya.
Selain persoalan infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan Batam sebagai pusat data nasional.
Baca Juga: Oknum Polisi Polresta Barelang Selundupkan Vape dari Malaysia
Menurut Bambang, hingga kini informasi mengenai kebutuhan tenaga kerja dari masing-masing proyek data center masih minim. Padahal informasi tersebut penting agar kampus dapat menyesuaikan kurikulum, kapasitas lulusan, hingga program pelatihan sesuai kebutuhan industri.
”Kalau kebutuhan SDM itu dibuka sejak awal, kampus bisa lebih cepat menyiapkan talenta yang sesuai. Jadi ketika industri mulai beroperasi, tenaga kerjanya juga sudah tersedia,” ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan Batam menjadi pusat data dan kecerdasan buatan nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi atau megahnya bangunan data center yang berdiri.
”Kita harus optimistis. Yang penting kebutuhan tenaga kerja dari investor bisa dibagikan lebih awal agar kampus-kampus di Batam memiliki waktu untuk menyiapkan lulusan yang sesuai. Jangan sampai investasinya datang, tetapi SDM lokal belum siap sehingga peluang kerjanya justru lebih banyak diisi tenaga dari luar daerah,” kata Bambang.
Dengan banyaknya proyek data center yang mulai terealisasi, Batam memasuki babak baru transformasi ekonomi berbasis digital. Tantangannya bukan lagi sekadar menarik investor datang, melainkan memastikan listrik tetap menyala, air tetap mengalir, dan masyarakat lokal menjadi pelaku utama di tengah ledakan industri baru tersebut. (*)



