
batampos – Di bawah jalan-jalan utama Kota Batam membentang jaringan pipa gas sepanjang 273 kilometer yang selama ini nyaris tak terlihat. Namun, infrastruktur milik PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Batam itu menjadi salah satu penopang yang menjaga industri tetap beroperasi, pembangkit listrik terus menyala, hingga ribuan rumah tangga memperoleh pasokan gas untuk memasak.
PGN mengingatkan bahwa kerusakan pada satu titik jalur pipa utama berpotensi memicu gangguan berantai terhadap berbagai layanan publik. Pasokan gas ke pembangkit listrik dapat terhenti, diikuti pemadaman listrik yang berdampak pada distribusi air bersih, layanan internet, hingga aktivitas industri.
Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, mengatakan jaringan gas tersebut merupakan infrastruktur strategis yang beroperasi selama 24 jam untuk melayani kawasan industri, pembangkit listrik, sektor komersial, dan pelanggan rumah tangga di Batam.
“Ini bukan sekadar pipa bawah tanah biasa. Ini merupakan jaringan utama yang sangat vital. Tidak boleh terganggu,” kata Wendi, Selasa (7/7).
Menurut dia, gas yang masuk ke jaringan utama memiliki tekanan sekitar 40 bar. Sebelum disalurkan kepada pelanggan, tekanan gas diturunkan menjadi sekitar 16 bar agar sesuai dengan kebutuhan berbagai sektor pengguna.
Wendi menjelaskan, apabila terjadi kerusakan pada jalur pipa utama, proses pemulihan tidak dapat dilakukan secara cepat. Seluruh jaringan harus dikosongkan terlebih dahulu sebelum pekerjaan perbaikan dimulai, sehingga waktu pemulihan dapat mencapai sekitar satu pekan.
“Kalau pipa utama ini terganggu, proses perbaikannya tidak bisa dilakukan dalam hitungan jam. Seluruh jaringan harus dikosongkan terlebih dahulu dan itu bisa memakan waktu hingga sekitar satu minggu,” ujarnya.
Dampaknya, kata dia, tidak hanya dirasakan pelaku industri. Terhentinya pasokan gas ke pembangkit listrik berpotensi memicu pemadaman listrik dalam skala luas. Kondisi tersebut dapat menghentikan operasional pompa distribusi air bersih, mengganggu jaringan telekomunikasi dan internet, serta menghentikan pasokan gas bagi ribuan pelanggan rumah tangga.
“Kalau listrik mati, pompa air berhenti. Internet ikut terganggu. Aktivitas masyarakat bisa lumpuh karena semuanya saling terhubung,” katanya.
Saat ini jaringan distribusi gas PGN menghubungkan sejumlah kawasan strategis di Batam, mulai dari Muka Kuning, Batu Ampar, Simpang menuju kawasan industri, Kabil, Eco Green, hingga kawasan sekitar Bandara Hang Nadim. Sejumlah pembangkit listrik yang berada di kawasan Kabil juga bergantung pada pasokan gas dari jaringan tersebut.
Besarnya peran jaringan pipa bawah tanah itu membuat PGN meminta seluruh pihak yang melakukan pekerjaan konstruksi maupun penggalian di sekitar jalur pipa agar berkoordinasi terlebih dahulu. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kerusakan infrastruktur yang menjadi tulang punggung distribusi energi Batam.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi seiring pertumbuhan investasi, PGN juga melanjutkan ekspansi jaringan gas. Pada 2026, perusahaan memfokuskan pengembangan ke sejumlah kawasan yang belum terlayani, termasuk wilayah sekitar Bandara Hang Nadim dan kawasan permukiman baru yang berkembang pesat.
Perluasan jaringan tersebut diarahkan untuk menopang pertumbuhan Batam sebagai kawasan industri, logistik, dan investasi. Dengan jaringan distribusi sepanjang 273 kilometer yang beroperasi tanpa henti, pasokan gas bumi kini menjadi salah satu fondasi penting yang menjaga roda perekonomian kota tetap bergerak.(*)

