
batampos –Pemerintah Kota Batam terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) agar mampu bersaing di dunia kerja sekaligus menjawab tingginya kebutuhan tenaga kerja terampil di sektor industri. Upaya tersebut diwujudkan melalui pembukaan Pelatihan dan Sertifikasi Juru Las 5G SMAW yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Selasa (7/7).
Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad, Asisten Administrasi dan Umum Setdako Batam Heriman AK yang mewakili Wali Kota Batam, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau Diki Wijaya, serta Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Yudi Suprapto beserta jajaran.
Program pelatihan ini diikuti 12 peserta yang seluruhnya merupakan lulusan SMA/SMK sederajat dan saat ini berstatus sebagai pencari kerja. Selama 18 hari, para peserta akan mendapatkan pelatihan berbasis kompetensi yang memadukan teori dan praktik sebelum mengikuti uji kompetensi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP).
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Yudi Suprapto, mengatakan kompetensi Juru Las 5G SMAW dipilih karena merupakan salah satu keahlian yang paling banyak dibutuhkan oleh dunia industri di Batam.
Menurutnya, Batam merupakan daerah dengan konsentrasi industri shipyard, fabrikasi, serta offshore dan marine terbesar di Indonesia. Aktivitas industri yang terus berkembang membuat kebutuhan tenaga las bersertifikat masih sangat tinggi.
“Permintaan tenaga las kompeten dari perusahaan masih cukup besar. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari sejumlah Human Resources Development (HRD) perusahaan, hingga saat ini masih banyak kebutuhan tenaga las yang belum terpenuhi,” kata Yudi, Rabu (8/7).
Ia menjelaskan, perusahaan saat ini tidak hanya mencari tenaga kerja yang memiliki kemampuan mengelas, tetapi juga mengutamakan pekerja yang telah memiliki sertifikasi kompetensi sehingga siap bekerja sesuai standar industri.
Karena itu, Disnaker Batam memilih menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi agar lulusan yang dihasilkan benar-benar memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari teknik pengelasan posisi 5G menggunakan metode Shielded Metal Arc Welding (SMAW), tetapi juga dibekali pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), disiplin kerja, hingga etika profesional yang menjadi bagian penting dalam dunia industri.
“Pelatihan berbasis kompetensi tidak hanya mengajarkan keterampilan atau skill semata. Peserta juga dibekali pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap kerja (attitude) agar siap memasuki dunia kerja,” ujarnya.
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta akan mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi. Bagi peserta yang dinyatakan kompeten, mereka akan memperoleh Sertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang diakui secara nasional.
Selain sertifikat BNSP, peserta juga akan memperoleh sertifikat pelatihan dari Balai Latihan Kerja (BLK) dan sertifikat dari Dinas Tenaga Kerja Kota Batam sebagai bukti telah mengikuti program peningkatan kompetensi.
Meski demikian, Yudi menegaskan bahwa Disnaker tidak dapat menjamin seluruh peserta langsung memperoleh pekerjaan setelah lulus pelatihan. Menurutnya, pelatihan dan penempatan kerja merupakan dua program yang berbeda. Peran pemerintah daerah adalah meningkatkan kompetensi pencari kerja sekaligus memfasilitasi pertemuan antara pencari kerja dengan perusahaan melalui berbagai layanan ketenagakerjaan.
“Kami tidak bisa menjamin seseorang langsung diterima bekerja. Namun kami membantu memfasilitasi dan menghubungkan pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja sesuai kompetensinya,” jelasnya.
Yudi menambahkan, pelatihan ini merupakan bagian dari strategi Pemerintah Kota Batam untuk menekan angka pengangguran melalui peningkatan kualitas tenaga kerja lokal.
Dengan memiliki kompetensi dan sertifikasi yang diakui, peluang pencari kerja untuk diterima di perusahaan akan semakin besar karena telah memenuhi salah satu persyaratan utama yang dibutuhkan industri.
Sepanjang tahun 2026, Disnaker Kota Batam menargetkan sebanyak 3.024 orang mengikuti program peningkatan kompetensi. Jumlah tersebut terdiri dari 1.984 pencari kerja yang mengikuti program Pelatihan dan Sertifikasi, serta 1.220 pekerja yang mengikuti program Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja yang telah bekerja.
Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Kota Batam berharap semakin banyak tenaga kerja lokal yang memiliki sertifikasi kompetensi sehingga mampu mengisi kebutuhan industri yang terus berkembang di Batam sekaligus meningkatkan daya saing masyarakat di pasar kerja.
“Semakin banyak tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan sertifikasi, maka peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan juga akan semakin besar. Inilah yang menjadi salah satu upaya kami dalam mendukung penurunan angka pengangguran di Kota Batam,” tutup Yudi.(*)

