
batampos – Kenaikan suku bunga kredit tidak menggoyahkan pasar properti di Batam. Hingga semester I 2026, penjualan rumah diperkirakan masih mencatat pertumbuhan sekitar tiga persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi itu menunjukkan permintaan hunian tetap terjaga meski biaya pembiayaan mulai meningkat.
Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Batam, Robinson Tan, mengatakan tren penjualan properti sepanjang enam bulan pertama tahun ini masih bergerak positif. Menurut dia, kenaikan suku bunga belum memberikan dampak berarti terhadap keputusan masyarakat membeli rumah maupun penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
“Kalau dari sisi tren penjualan masih naik. Estimasinya sekitar tiga persen sampai semester pertama,” kata Robinson, Jumat (10/7).
Baca Juga: Imigrasi Batam Bakal Perluas Desa Binaan, Libatkan Warga Cegah Perdagangan Orang
Ia menilai perbankan masih agresif menyalurkan pembiayaan sektor perumahan. Persaingan antarbank untuk menawarkan fasilitas KPR membuat akses pembiayaan bagi masyarakat masih relatif terbuka.
“Belum terlalu berpengaruh. Kredit dari perbankan masih banyak, bahkan bank-bank masih berlomba-lomba memberikan pembiayaan KPR,” ujarnya.
Meski demikian, Robinson memperkirakan tantangan baru akan mulai terasa pada semester kedua 2026. Kenaikan biaya produksi, terutama akibat meningkatnya harga material bangunan, diperkirakan mulai menekan harga jual rumah baru.
Menurut dia, dampak tersebut belum terlihat pada semester pertama karena sebagian besar unit yang dipasarkan merupakan stok proyek yang dibangun sebelum biaya konstruksi mengalami kenaikan. Kondisi itu membuat pengembang masih mampu mempertahankan harga jual tanpa membebankan seluruh kenaikan biaya kepada konsumen.
Baca Juga: Kemah Literasi 2026: Meningkatkan Budaya Literasi Melalui Kegiatan Edukatif dan Rekreatif
Di tengah potensi kenaikan harga, Robinson tetap optimistis prospek pasar properti Batam akan bertahan. Ia menilai pertumbuhan kawasan industri dan derasnya investasi yang masuk ke Batam akan terus menciptakan permintaan hunian baru, baik dari pekerja maupun masyarakat yang menetap di kota tersebut.
“Selama industri di Batam masih tumbuh, kebutuhan rumah juga akan meningkat. Kenaikan harga kemungkinan masih bisa diimbangi oleh permintaan pasar,” katanya.
Optimisme tersebut menunjukkan bahwa faktor fundamental ekonomi Batam masih menjadi penopang utama sektor properti. Selama aktivitas industri dan investasi tetap berkembang, pelaku usaha meyakini pasar perumahan masih memiliki ruang untuk tumbuh meski menghadapi tekanan kenaikan biaya dan suku bunga. (*)

