
batampos – Kenaikan harga gas industri kembali menjadi ancaman bagi dunia usaha di Batam. Setelah naik dari sekitar USD15 per MMBTU pada Mei menjadi USD20 per MMBTU pada Juni, harga gas disebut masih berpotensi kembali meningkat pada Juli.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kenaikan biaya produksi, menggerus daya saing produk ekspor, hingga membuat sejumlah perusahaan menahan rencana ekspansi dan perekrutan tenaga kerja.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Batam, Rafky Rasyid, mengatakan kenaikan harga gas memberikan tekanan langsung terhadap industri yang menjadikan gas sebagai sumber energi utama dalam kegiatan produksi.
Di tengah persaingan industri global yang semakin ketat, kenaikan biaya energi dinilai menjadi beban tambahan bagi perusahaan yang beroperasi di Batam.
“Kalau harga gas terus naik, otomatis biaya produksi perusahaan juga ikut naik. Industri di Batam yang bergantung pada gas akan paling merasakan dampaknya,” ujar Rafky kepada Batam Pos, Senin (13/7).
Menurut dia, sektor yang paling rentan terdampak adalah industri galangan kapal dan offshore, fabrikasi logam, oleokimia, serta sebagian industri elektronik.
Selain sektor manufaktur, kenaikan harga gas juga berpotensi menekan sektor jasa seperti rumah sakit, hotel, serta industri makanan dan minuman (F&B) yang memanfaatkan gas dalam operasionalnya.
Rafky mencontohkan industri oleokimia seperti Ecogreen yang memiliki konsumsi gas cukup besar. Bagi industri dengan kebutuhan energi tinggi, kenaikan harga gas akan langsung memengaruhi struktur biaya produksi dan margin usaha.
Meski demikian, Rafky memperkirakan pasokan listrik PLN Batam belum akan terdampak dalam waktu dekat. Hal itu karena PLN Batam masih mendapatkan pasokan gas melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dengan tarif sekitar USD7 per MMBTU.
BACA BERITA LENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

