
batampos – Pemerhati pariwisata Buralimar menilai Batam dan Bintan seharusnya tidak lagi dipandang sebagai dua wilayah yang terpisah dalam pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, wisatawan mancanegara melihat kedua daerah tersebut sebagai satu kesatuan destinasi wisata di Provinsi Kepulauan Riau.
Dalam tulisannya bertajuk Tiada Batas Administrasi bagi Pariwisata Batam dan Bintan, Buralimar menyebut batas administratif hanya penting untuk urusan birokrasi pemerintahan, namun tidak terlalu berpengaruh bagi wisatawan.
“Paket wisata yang dijual travel agent tidak pernah hanya Batam atau hanya Bintan. Yang dijual selalu Batam-Bintan atau Bintan-Batam,” tulisnya, Rabu (27/5).
Ia menjelaskan, kedekatan geografis menjadi kekuatan utama kedua daerah tersebut. Dari Batam menuju Singapura hanya membutuhkan waktu ferry sekitar 45 menit hingga satu jam. Sementara ke Johor, Malaysia, perjalanan laut berkisar 90 menit hingga dua jam.
Kondisi itu membuat wisatawan asing mudah berpindah destinasi dalam waktu singkat. Wisatawan Singapura misalnya, dapat menikmati wisata kuliner dan hiburan di Batam, lalu melanjutkan perjalanan menikmati resort dan pantai di Bintan.
Menurut Buralimar, Batam dan Bintan memiliki karakter wisata yang saling melengkapi.
Batam dikenal sebagai kota yang hidup dengan pusat perbelanjaan, hiburan malam, hingga ragam kuliner Melayu, Tionghoa dan India. Sementara Bintan menawarkan suasana yang lebih tenang melalui resort tepi pantai, wisata bahari, hingga ekowisata mangrove.
“Batam menjadi tempat mencari keramaian, sedangkan Bintan tempat mencari ketenangan,” katanya.
Ia juga menilai segmentasi wisatawan kedua daerah berbeda. Wisatawan asal Singapura lebih banyak mencari hiburan, spa dan wisata kuliner di Batam. Sedangkan wisatawan asal Tiongkok cenderung memilih resort dan wisata pantai di Bintan.
Karena itu, ia menilai pengembangan pariwisata di Kepri harus dilakukan secara bersama tanpa membandingkan satu daerah dengan daerah lainnya.
“Tidak ada yang rugi kalau wisatawan menginap semalam di Batam lalu dua malam di Bintan. Semua mendapat manfaat, mulai hotel, ferry, travel agent, UMKM hingga masyarakat,” ujarnya.
Buralimar juga menyoroti rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan yang dinilai dapat menjadi penghubung strategis bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Kepri.
Ia menyebut survei kelayakan pembangunan jembatan telah selesai dilakukan pada akhir 2024 dengan hasil wilayah perairan Batam dan Bintan dinilai layak untuk pembangunan.
“Anak cucu kita nanti mungkin tidak akan bertanya Batam atau Bintan yang lebih hebat. Mereka akan bertanya kenapa dulu tidak disambungkan lebih cepat,” katanya.
Selain Batam dan Bintan, ia juga menilai daerah lain di Kepri seperti Karimun, Lingga, Anambas dan Natuna memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata unggulan di masa depan.(*)



