
batampos – Gejolak geopolitik dunia yang mempengaruhi rantai pasok global mulai menjadi perhatian serius Badan Pengusahaan (BP) Batam. Ketergantungan industri terhadap bahan baku impor dinilai menjadi tantangan besar bagi Batam sebagai kawasan industri nasional yang selama ini bertumpu pada sektor manufaktur dan ekspor.
Karena itu, BP Batam mulai mengubah arah kebijakan investasi dengan mendorong pengembangan industri bahan baku, industri pendukung hingga hilirisasi agar Batam tidak hanya menjadi tempat merakit produk, tetapi juga memiliki rantai pasok industri yang lebih mandiri.
Deputi Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan kondisi geopolitik global justru menjadi momentum bagi Batam untuk naik kelas sebagai kawasan industri modern yang terintegrasi.
“Betul, tantangan geopolitik justru menjadi momentum bagi Batam untuk naik kelas dari sekadar assembly hub menjadi integrated industrial ecosystem,” kata Farry kepada Batam Pos, Senin (11/5).
Menurut dia, selama ini banyak industri di Batam masih bergantung pada bahan baku dan komponen dari luar negeri. Ketika situasi global terganggu, mulai dari perang dagang hingga konflik geopolitik, biaya produksi ikut terdampak karena harga bahan baku menjadi mahal dan distribusi tersendat.
Karena itu, arah investasi ke depan tidak hanya fokus menarik industri manufaktur akhir, tetapi juga memperkuat sektor penyediaan bahan baku, komponen industri hingga rantai pasok strategis.
”Arahan kami ke depan bukan hanya menarik industri manufaktur akhir, tetapi juga memperkuat investasi sektor bahan baku, komponen, recycling industry hingga strategic industrial supply chain,” ujarnya.
Fary menjelaskan, BP Batam saat ini mulai mendorong pengembangan industri pendukung dan substitusi impor, hilirisasi berbasis mineral dan material strategis, serta industri daur ulang dan circular economy.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat Batam ke depan diproyeksikan menjadi basis industri modern dan bersih yang membutuhkan standar bahan baku global, termasuk untuk industri elektronik, renewable energy hingga data center.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah proyek hilirisasi memang mulai masuk ke Batam. Mulai dari pengolahan timah, rencana pengolahan silika hingga industri daur ulang atau recycling industry.
Namun demikian, Fary mengakui pengembangan industri bahan baku bukan perkara mudah. Ada sejumlah tantangan besar yang selama ini menjadi kendala investasi sektor tersebut di Batam.
”Kendalanya selama ini ada pada skala industri bahan baku yang membutuhkan energi besar, kepastian lahan, logistik, dan keekonomian investasi jangka panjang,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan itu, BP Batam saat ini tengah mempercepat berbagai persiapan mulai dari kepastian perizinan, kesiapan kawasan industri modern, pengembangan energi hijau hingga integrasi pelabuhan dan sistem logistik.
Menurut Farry, target besar yang sedang dibangun adalah menjadikan Batam bukan hanya sebagai tempat perakitan produk dunia, tetapi juga pusat rantai pasok industri modern yang mandiri dan tahan terhadap gejolak global.
”Targetnya jelas, Batam tidak hanya menjadi tempat merakit produk dunia, tetapi juga menjadi pusat supply chain industri modern yang lebih mandiri, tangguh dan kompetitif di tengah gejolak global,” tegasnya.
Ia menambahkan, proses transformasi tersebut sebenarnya sudah mulai berjalan. Saat ini Batam sedang memasuki fase transisi dari basis manufaktur konvensional menuju integrated industrial hub.
Beberapa sektor yang mulai bergerak sebagai fondasi awal di antaranya investasi data center, energi terbarukan, industri elektronik, galangan kapal hingga recycling industry.
Farry menilai dua hingga lima tahun ke depan akan menjadi periode penting bagi Batam untuk memperkuat ekosistem bahan baku, industri pendukung serta supply chain lokal.
”Apalagi dengan penguatan FTZ Batam, penyederhanaan perizinan, serta transformasi BP Batam sebagai operator investasi pemerintah, kami ingin percepatan ini lebih terukur dan agresif,” katanya.(*)

