
batampos – Masyarakat Kota Batam patut mewaspadai penyakit HIV/AIDS. Sebab, setiap tahun ditemukan hingga ratusan kasus-kasus baru. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Senin (1/8).
“Ya, tiap tahun kita menemukan kasus-kasus baru. Itu jumlahnya di atas 200 orang pertahun,” ujarnya.
Didi mengatakan, berdasarkan data yang masuk, dari Januari hingga Juni 2022 pihaknya menemukan 295 kasus. Jumlah ini hampir sama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dimana sepanjang tahun 2021 lalu, pihaknya menemukan 406 kasus baru HIV/AIDS dan di tahun 2020 ada 538 kasus baru HIV/AIDS.
Ditambahkan Didi, hampir semua kategori usia ada ditemukan. Mulai anak-anak sampai orang dewasa. Terbanyak itu di usia dewasa yaitu usia 25 tahun sampai dengan 49 tahun. Dimana berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Batam, dari 295 kasus baru di tahun ini sebanyak 217 diantaranya merupakan usia produktif 25 tahun sampai dengan 49 tahun.
Selanjutnya, usia 20-24 tahun sebanyak 42 kasus, usia 50 tahun ke atas 28 orang dan usia 5-14 tahun dua kasus dan usia 15-19 tahun yakni enam kasus.
Adapun bila dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, penderita HIV tahun ini di Kota Batam masih didominasi oleh laki-laki yakni sebanyak 225 kasus. Sedangkan perempuan berjumlah 70 kasus.
”Paling banyak laki-laki usia 25 tahun sampai 49 tahun dengan junlah 157 kasus,” bebernya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Batam mencatat, sebanyak 32 orang penderita HIV meninggal dunia sepanjang Januari sampai Juni 2022. Sementara di tahun 2021 lalu sebanyak 58 warga Kota Batam dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit ini dan di tahun 2020 penderita meninggal capai 77 orang.
Dijelaskannya, HIV/AIDS sebagian besar disebabkan seks bebas yang disertai tanpa alat pengaman atau kondom. Apalagi ganti-ganti pasangan. Ditambah yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
”Paling banyak itu pasangan sejenis LSL (Lelaki Suka Lelaki),” jelasnya.
Berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Batam dalam menimimalisir angka HIV/AIDS. Salah satu memberikan penyuluhan dengan melibatkan semua lapisan masyarakat. Melakukan tes HIV/AIDS sebanyak-banyaknya termasuk juga Mobile VCT.
Selain itu, pihaknya juga memberikan sosialisasi pengobatan segera, sebab orang dalam HIV/AIDS (ODHA) yang teratur ARV menyebabkan viral load rendah dan kemungkinan menularkan juga menjadi rendah. “Penyuluhan seperti ini terus digalakkan,” ucapnya. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra

