
Biaya perjalanan melonjak tajam akibat konflik global, dan Batam kini menjadi salah satu daerah yang paling merasakan efek berantainya, dari tiket pesawat, tarif feri, hingga daya beli masyarakat. Ketika mobilitas mulai tersendat, dampaknya bakal menjalar ke mana-mana: wisatawan menahan kunjungan, pelaku usaha mengeluh, hingga ancaman inflasi dan perlambatan ekonomi kian nyata di depan mata. Batam kini di persimpangan: bertahan atau terseret ketidakpastian.
RIAK konflik geopolitik global kini merambat hingga ke sektor transportasi dan pariwisata di Batam. Ketegangan antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS), mendorong lonjakan harga minyak dunia yang merangkak naik dari sekitar 67 dolar Amerika per barel menjadi lebih dari 102 dolar Amerika per barel.
Kenaikan ini tidak berhenti pada sektor energi, tetapi menjalar langsung ke biaya transportasi. Harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya avtur sebagai bahan bakar pesawat, tercatat melonjak lebih dari 70 persen, sementara bahan bakar kapal feri turut mengalami kenaikan signifikan.
Efeknya langsung terasa pada biaya perjalanan: tarif tiket pesawat naik hingga 13 persen, ditambah fuel surcharge yang mencapai 38 persen. Dalam waktu singkat, harga tiket pun melambung.
BACA SELENGKAPNYA di harian.batampos.co.id



