Jumat, 12 Juni 2026

BP Batam Siapkan 100 Hektare Lahan Baru, Bidik Batam Jadi Pusat MRO dan Industri Dirgantara Asia Pasifik

Berita Terkait

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis (kiri) bersama Ketua IAMSA Andi Fahrurrozi (tengah) menyampaikan pandangannya terkait pengembangan industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam, Senin (9/6). F. Azis Maulana / Batam Pos

batampos – Ambisi Batam untuk menjadi pusat industri perawatan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO) dan dirgantara di kawasan Asia Pasifik terus dipacu. Badan Pengusahaan (BP) Batam menyiapkan tambahan lahan seluas 100 hektare di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim guna memperkuat ekosistem industri penerbangan sekaligus menarik investasi baru.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang BP Batam untuk menangkap peluang pasar MRO global yang bernilai miliaran dolar setiap tahun serta mengurangi ketergantungan industri penerbangan nasional terhadap fasilitas perawatan pesawat di luar negeri.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan Batam saat ini sedang membangun fondasi yang lebih kuat agar mampu bersaing dengan pusat-pusat MRO regional seperti Singapura dan Malaysia.

Menurutnya, penyelenggaraan Indonesia Maintenance Repair and Overhaul Summit (IMROS) 2026 di Batam menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan Batam sebagai tujuan investasi industri penerbangan.

“Penyelenggaraan IMROS 2026 di Batam menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan Batam sebagai destinasi investasi industri penerbangan dan MRO,” kata Fary, Rabu (10/6).

Fary menjelaskan, kawasan di sekitar Bandara Internasional Hang Nadim memiliki posisi strategis untuk dikembangkan sebagai klaster industri aerospace dan perawatan pesawat. Kawasan tersebut juga didukung keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang menjadi basis operasional Batam Aero Technic (BAT), perusahaan perawatan pesawat milik Lion Group.

Seiring meningkatnya kebutuhan industri, kapasitas kawasan tersebut terus diperluas. Dalam jangka panjang, kawasan aerospace Batam diproyeksikan mampu menyerap hingga 16 ribu tenaga kerja.

Saat ini, sekitar 5.000 hingga 6.000 pekerja telah terserap dalam berbagai aktivitas industri penerbangan yang beroperasi di kawasan tersebut.

“Kami juga menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare yang dapat dimanfaatkan investor untuk pengembangan fasilitas MRO maupun industri pendukung penerbangan lainnya,” ujarnya.

BP Batam berharap ketersediaan lahan baru tersebut mampu menarik lebih banyak investor global yang bergerak di sektor perawatan pesawat, manufaktur komponen, hingga teknologi dirgantara. Pengembangan kawasan tidak hanya difokuskan pada layanan perawatan pesawat komersial, tetapi juga membangun rantai pasok industri aerospace yang lebih lengkap dan terintegrasi.

Investasi Batam Tumbuh Pesat

Di tengah upaya membangun kawasan dirgantara, Batam juga mencatat pertumbuhan investasi yang signifikan. BP Batam menyebut realisasi investasi pada awal 2025 meningkat hingga 105 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah pusat menjadikan Batam sebagai model percepatan investasi nasional. Fokusnya tidak hanya menarik modal baru, tetapi juga mempercepat proses pelayanan dan memangkas hambatan birokrasi.

Fary mengatakan sejumlah kewenangan perizinan yang sebelumnya diproses melalui kementerian di Jakarta kini mulai didelegasikan kepada BP Batam. Kebijakan tersebut memungkinkan investor mengurus berbagai dokumen perizinan secara langsung di Batam.

“Arahan Presiden adalah memberikan kepastian regulasi dan mempercepat pelayanan sehingga investor tidak lagi menghadapi proses yang panjang,” katanya.

Kemudahan tersebut mencakup pengurusan dokumen lingkungan hidup serta sejumlah izin pemanfaatan ruang yang kini dapat diproses lebih cepat.

Bertumpu pada Kekuatan Logistik

Selain ketersediaan lahan dan kemudahan perizinan, BP Batam menilai posisi geografis Batam menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi. Letaknya yang berada di jalur perdagangan internasional serta berdekatan dengan Singapura menjadi modal penting bagi industri penerbangan yang membutuhkan distribusi suku cadang secara cepat dan efisien.

Karena itu, penguatan konektivitas antara kawasan industri, pelabuhan, dan bandara menjadi fokus utama pengembangan berikutnya. Infrastruktur logistik yang terintegrasi dinilai menjadi syarat penting bagi industri MRO yang mengandalkan kecepatan layanan dan ketepatan waktu.

BP Batam optimistis kombinasi antara kawasan industri yang terintegrasi, kemudahan investasi, serta dukungan infrastruktur logistik akan memperkuat daya saing Batam dalam menarik investasi global.

Jika seluruh rencana tersebut berjalan sesuai target, Batam berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri MRO dan aerospace terbesar di kawasan Asia Pasifik. (*)

UPDATE