Sabtu, 22 Januari 2022

Cegah Perceraian di Batam, Rudi Pilih Kembangkan Ekonomi

- Iklan -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terkait

spot_img
spot_img
- Iklan -spot_img
FGD Keluarga Sakinah 1 F Cecep Mulyana scaled e1640919452460
Walikota Batam Muhammud Rudlii (kiri) berbincang dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Bataam Luqman Rifai (kanan) pada acara Forum Group Discussion Kaluarga Sakinah yang di gelar oleh MUI Batam di Aula Hotel PIH Batam, Kamis (30/12). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Tingginya angka perceraian di Batam, membuat Walikota Batam, Muhammad Rudi risau. Faktor utama penyebab perceraian di Batam yakni kondisi ekonomi. Sehingga Rudi menjanjikan akan perbaiki ekonomi di Batam, agar tingkat perceraian menurun.

“Faktor nomor satu yakni karena ekonomi, saya yakin bisa teratasi. Kita bangun ekonomi, agar bangkit kembali, supaya angka perceraian itu bisa diselesaikan dalam lima tahun saja,” tuturnya saat acara Forum Group Discussion (FGD) Keluarga Sakinah di Hotel PIH Batam Centre, Kamis (30/12).

Menurut Rudi, dalam perjalanan pernikahan, selalu ada sisi positif dan sisi negatif yang dapat ditemui. “Ketika menemukan persoalan dalam pernikahan dan mampu mengatasinya, saya minta tolong dibagikan resepnya. Dan jika itu sesuatu yang negatif, bisa dijadikan pengalaman supaya tidak terjadi kepada yang lain,” katanya lagi.

Jumlah kasus perceraian yang mencapai ribuan harus ditindaklanjuti oleh stakeholder terkait seperti Kementerian Agama serta Pengadilan Agama (PA) Batam.

Wakil Ketua PA Batam, Arinal mengatakan dari 1.716 kasus perceraian yang masuk sejak Oktober, sekitar 12 persen bisa didamaikan.”Tidak bosan-bosan kami turun sebagai mediator. Kami coba seminimal mungkin agar tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Batam, Zulkarnain Umar mengatakan Kemenag memiliki sejumlah program untuk menekan angka perceraian.”Di Kemenag ada beberapa program. Pertama pembinaan pra nikah, yang sasarannya untuk siswa dan mahasiswa. Kemudian bimbingan calon pengantin bagi mereka yang mau mendaftar nikah. Mereka kita bimbing, dan dilatih untuk 16 hal dalam pernikahan,” tuturnya.

Kemudian, pusaka sakinah atau pusat layanan keluarga sakinah. “Sasarannya, orang yang sudah berumah tangga dari 5 hingga 20 tahun. Program ini untuk mensejahterakan mereka. Dan terakhir pemilihan keluarga sakinah teladan sampai ke tingkat kecamatan, agar dapat memberi contoh bagaimana membentuk keluarga yang sakinah itu,” tekannya.

Kasus perceraian di Kota Batam masih terbilang tinggi. Buktinya, sepanjang tahun 2021 (Januari-Oktober) ini sudah ada 1.716 kasus perceraian masuk ke Pengadilan Agama (PA) Kota Batam. Kasus perceraian ini masih didominasi oleh gugatan pihak istri atau dikenal cerai gugat. Sebanyak 1.557 diantaranya sudah diputus atau diterbitkan akta perceraiannya oleh Pengadilan Agama. Setiap tahun terjadi kenaikan lima hingga 10 persen. (*)

Reporter : Rifki Setiawan

spot_img

Update