
batampos – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam meminta agar distributor kembali menurunkan harga telur seperti sebelum ada kenaikan.
”Saya telah meminta distributor untuk tidak menaikkan harga. Karena itu, harga telur yang sudah naik, tolong dikembalikan seperti semula,” ujar Kepala Disperindag Kota Batam, Gustian Riau.
Dikatakannya, distributor memiliki banyak stok telur yang lama. Sehingga, harga telur masih bisa ditekan tidak mengikuti harga telur ayam buras yang baru.
”Stok telur mereka kan ada, itu kan harga lama. Jadi tolong jangan naikkan dulu,” terang Gustian.
Menurut dia, distributor menyanggupi permintaannya. Sehingga dipastikan, harga telur akan turun kembali dalam waktu dekat.
”Besok (hari ini, red) akan turun. Karena distributor menyanggupi,” tegas Gustian.
Sementara Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Aryanto, membenarkan adanya permintaan dari Kadisperindag Kota Batam.
Ia juga telah menindaklanjuti permintaan itu kepada distributor telur.
”Saya sudah sampaikan kepada distributor, jika memang ada stok lama, diharapkan tak menaikkan harga dulu,” terangnya.
Namun, jika distributor sudah terlanjur mengambil harga baru dari peternak di Medan, maka ia berharap, agar tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar.
”Kalau memang sudah terlanjur ambil stok baru, kami minta untuk tidak mengambil margin yang besar, agar menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini,” ungkap Aryanto.
Pantauan Batam Pos di sejumlah swalayan, harga telur yang dipajang rata-rata masih berkisar Rp 47.500-50.000 per papan isi 30 butir telur. Sdangkan untuk per pak isi 10 butir, harganya Rp 16.500-18.000.
Di Batuampar, harga telur juga mencapai Rp 18 ribu untuk 10 butir telur. Kondisi ini sudah terjadi sejak empat hari terakhir.
”Sepertinya karena permintaan tinggi, orang-orang mulai bikin kue untuk Lebaran, jadi harga telur ikut naik,” ujar Wati, pedagang sembako di Batuampar.
Sementara Siti, salah satu pembeli telur mengaku keberatan dengan naiknya harga telur tersebut. Pasalnya, telur jadi alternatif lauk pauk warga saat Ramadan ini.
”Kalau pas enggak sanggup beli ayam atau daging, telur ini jadi lauk favorit karena terjangkau. Tapi kalau harganya mahal, tentu sangat memberatkan,” katanya.(*)
Reporter: Yashinta

