Selasa, 28 April 2026

Embarkasi Batam Berbenah: Alur Baru Haji Dimulai dari Pemeriksaan Kesehatan dan Kartu Nusuk

Berita Terkait

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad saat berbincang dengan jamaah haji asal Batam. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Pemerintah membatasi kegiatan seremonial keberangkatan haji hanya satu kali di tiap provinsi pada musim haji tahun ini. Kebijakan itu diambil untuk menjaga kondisi fisik jemaah, terutama kelompok lanjut usia, yang mendominasi peserta dari Kepulauan Riau.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Kepulauan Riau, Syafi’i, mengatakan pembatasan seremoni merupakan bagian dari strategi pelayanan berbasis kesehatan.

“Acara seremonial dibatasi hanya satu kali. Ini bagian dari upaya menjaga kesehatan jemaah, khususnya lansia, agar tetap prima hingga kembali ke Tanah Air,” ujarnya, Rabu (22/4).

Tema pelayanan haji tahun ini menitikberatkan pada pendekatan inklusif: ramah lansia, ramah perempuan, dan ramah penyandang disabilitas. Seluruh petugas diminta menyesuaikan layanan dengan kebutuhan jemaah yang kian beragam.

Baca Juga: 648 Jamaah dari Batam, Termuda 14 Tahun dan yang Tertua 83 Tahun

“Prioritas kita tahun ini adalah lansia, perempuan, dan disabilitas,” kata Syafi’i.

Dari sisi kuota, jemaah asal Kepulauan Riau tercatat sebanyak 10.085 orang, ditambah 10 petugas sehingga total menjadi 10.095 orang.

Sekitar 70 persen di antaranya merupakan lansia, dengan usia tertua 83 tahun dan termuda 18 tahun. Komposisi ini mendorong pemerintah menekankan pendekatan pelayanan yang lebih humanis dan adaptif.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Batam, Muhammad Syafii, mengatakan seluruh fasilitas di Asrama Haji Batam telah disiapkan sesuai standar operasional prosedur.

“Secara umum, kesiapan sudah sesuai SOP. Fasilitas telah dibersihkan dan dipastikan siap menerima jemaah,” ujarnya.

Namun, terdapat sejumlah penyesuaian alur layanan dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, tahapan awal bagi jemaah yang masuk asrama dimulai dari pemeriksaan kesehatan, sebelum pembagian dokumen perjalanan.

“Selain paspor, pemerintah juga membagikan kartu nusuk identitas layanan haji di Arab Saudi lebih awal,” ujarnya.

Langkah ini diambil sebagai evaluasi dari penyelenggaraan tahun lalu, ketika distribusi kartu tersebut mengalami keterlambatan.

“Tahun lalu ada jemaah yang bahkan menjelang Arafah kartunya belum siap. Karena itu sekarang dibagikan sejak di asrama,” kata Syafii.

Setelah proses administrasi, jemaah menerima biaya hidup (living cost), gelang identitas, serta menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum diberangkatkan.

Pada kelompok terbang (kloter) pertama Embarkasi Batam, sebanyak 445 jemaah diberangkatkan dari Kepulauan Riau. Mereka berasal dari Kabupaten Lingga sebanyak 27 orang, Kabupaten Bintan 44 orang, Kota Tanjungpinang 145 orang, dan Kota Batam 145 orang, serta didampingi empat petugas haji.

Secara keseluruhan, Embarkasi Batam akan melayani 10.845 jemaah dan 100 petugas. Di tengah tingginya jumlah peserta, PPIH juga mengingatkan keluarga pengantar untuk tidak memadati area asrama. Pembatasan ini bertujuan menjaga kenyamanan dan konsentrasi jemaah menjelang keberangkatan.

“Jika jemaah sudah masuk asrama, diharapkan tidak ada lagi gangguan dari luar. Ikuti prosedur yang telah ditetapkan agar proses berjalan tertib,” ujar Syafii.

Di sisi lain, panitia mencatat dua insiden menjelang keberangkatan: satu jemaah asal Karimun meninggal dunia dan satu lainnya dalam kondisi sakit.

“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aspek kesehatan tetap menjadi faktor krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini,” ujarnya.

Dengan dominasi jemaah lansia dan sejumlah evaluasi dari musim sebelumnya, pemerintah berupaya memastikan seluruh tahapan perjalanan haji berjalan lebih tertib, aman, dan berpihak pada kebutuhan jemaah. (*)

ReporterAziz Maulana

UPDATE