
batampos – Kenaikan harga minyak goreng di Kota Batam mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Sejumlah warga mengeluhkan harga minyak goreng yang terus merangkak naik di pasaran.
Kenaikan tersebut berkisar antara Rp2.000 hingga Rp4.000 per kemasan, tergantung merek dan jenis produk.
Lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai cukup memberatkan, terlebih setelah sebelumnya harga bahan pokok lain seperti beras lebih dulu mengalami kenaikan.
Kiara, ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan Nongsa, mengaku harus mengatur ulang pengeluaran dapurnya akibat kenaikan harga tersebut. Ia menyebut, hampir semua merek minyak goreng yang biasa dibelinya kini mengalami kenaikan.
Baca Juga: Gejolak Timur Tengah Picu Krisis Berantai, Batam Rentan Terdampak
“Sudah naik minyak goreng, bahkan beberapa merek yang biasa saya konsumsi sekarang sudah tidak ada di pasaran,” ujarnya, kemarin.
Menurut Kiara, selain harga yang naik, ketersediaan minyak goreng premium juga mulai terbatas di pasaran. Ia mengaku kesulitan menemukan merek-merek yang sebelumnya mudah didapatkan.
“Sekarang banyak merek baru yang saya lihat. Kalau merek premium justru jarang ada, kecuali di ritel modern. Kalau di swalayan biasa sudah susah,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Nurlela, pedagang keripik di Batam. Ia mengaku kenaikan harga minyak goreng cukup berdampak terhadap biaya produksi usahanya. Pasalnya, ia harus menggunakan minyak goreng premium untuk menjaga kualitas produknya.
“Cari yang premium sekarang susah. Sunco saja, dulunya sekitar Rp36 ribu, sekarang sudah Rp42 ribu. Naiknya tinggi,” ungkapnya.
Nurlela mengatakan, kondisi ini memaksanya untuk mempertimbangkan ulang harga jual produknya. Namun di sisi lain, ia khawatir kenaikan harga akan berdampak pada daya beli konsumen.
Baca Juga: MTQH XXXIV Ramai, Ketapel Vol. 2 Ikut Diserbu Warga di Alun-alun Engku Putri
Ia berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengendalikan harga dan memastikan ketersediaan minyak goreng di pasaran tetap stabil.
“Harusnya ada langkah dari pemerintah supaya kondisi ini tidak berlarut-larut,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Ariyanto, membenarkan adanya kenaikan harga minyak goreng premium. Ia menyebutkan, kenaikan terjadi akibat meningkatnya biaya produksi di tingkat pabrik, termasuk bahan baku dan kemasan.
Menurutnya, kenaikan tersebut masih tergolong wajar dan belum sepenuhnya dirasakan oleh seluruh masyarakat karena sebagian distributor masih menjual stok lama.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan mulai adanya tekanan yang dirasakan masyarakat, terutama akibat terbatasnya ketersediaan produk premium dan kosongnya stok minyak goreng bersubsidi Minyakita di sejumlah titik distribusi.(*)



