
batampos – Kemacetan kronis di ruas Jalan Marina City, khususnya di kawasan Simpang Basecamp hingga depan D Merlion Hotel, semakin meresahkan masyarakat. Tidak hanya menghambat aktivitas warga, kepadatan kendaraan bahkan membuat ambulans yang sedang membawa pasien darurat terjebak di tengah antrean panjang.
Kondisi ini memicu desakan agar Pemerintah Kota Batam segera merealisasikan pelebaran jalan sekaligus menertibkan lapak-lapak liar yang memakan badan jalan.
Setiap hari, kemacetan terjadi pada jam-jam sibuk. Pagi hari dipadati kendaraan para pekerja dan orang tua yang mengantar anak ke sekolah.
Memasuki siang hari, arus lalu lintas kembali padat karena aktivitas penjemputan siswa, sementara sore hingga malam hari kendaraan bercampur dengan pengunjung pasar kaget dan aktivitas pedagang kaki lima yang berjualan di sepanjang tepi jalan.
Baca Juga: Surga Pecinta Pastry! Ini 5 Cinnamon Rolls Terenak di Batam yang Wajib Dicicipi
Kondisi jalan yang hanya memiliki satu lajur di masing-masing arah dinilai sudah tidak lagi mampu menampung pertumbuhan kendaraan. Apalagi kawasan Marina City terus berkembang menjadi kawasan permukiman, pusat perdagangan, serta terdapat sejumlah sekolah yang setiap hari memicu tingginya mobilitas masyarakat.
Keberadaan kios-kios liar dan lapak pedagang yang memanfaatkan ruang milik jalan (ROW) juga menjadi sorotan warga. Selain mempersempit badan jalan, aktivitas jual beli di pinggir jalan menyebabkan kendaraan kerap berhenti sembarangan sehingga memperparah kemacetan yang sudah terjadi.
Ridwan, salah seorang warga Marina City, mengatakan kemacetan kini sudah menjadi persoalan yang dihadapi setiap hari. Menurutnya, pelebaran jalan sudah tidak bisa lagi ditunda karena jumlah kendaraan terus meningkat.
“Kami berharap pemerintah segera merealisasikan pelebaran jalan agar kemacetan tidak semakin parah,” ujarnya.
Keluhan senada disampaikan Jamil. Ia menilai penertiban kios liar dan pasar kaget harus dilakukan bersamaan dengan pelebaran jalan. “Kalau lapak-lapak yang memakai bahu jalan tidak ditata, jalan tetap sempit. Masyarakat yang dirugikan karena harus terjebak macet setiap hari,” katanya.
Baca Juga: Predikat Kota Layak Anak Belum Mencerminkan Kondisi Nyata
Sementara itu, Anita mengaku prihatin ketika melihat sebuah ambulans yang membawa pasien tidak dapat melintas akibat terjebak kemacetan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan di Marina City sudah memasuki tahap yang memerlukan penanganan serius.
“Kalau ambulans saja tidak bisa lewat, artinya ini sudah darurat. Pemerintah harus segera mengambil langkah nyata,” tuturnya.
Lurah Tanjung Riau, Syamsuddin, mengakui persoalan kemacetan di Jalan Marina City telah lama menjadi keluhan masyarakat. Menurutnya, usulan pelebaran jalan sudah berkali-kali disampaikan warga dalam berbagai kesempatan dan menjadi salah satu aspirasi yang paling sering diterima pemerintah kelurahan.
Syamsuddin menjelaskan pihaknya telah meneruskan seluruh aspirasi masyarakat tersebut ke tingkat kecamatan hingga Pemerintah Kota Batam agar menjadi perhatian dalam program pembangunan infrastruktur.
“Keluhan dan usulan warga mengenai pelebaran jalan sudah kami sampaikan ke kecamatan dan diteruskan ke Pemko Batam. Kami berharap usulan ini dapat segera ditindaklanjuti sesuai skala prioritas dan ketersediaan anggaran,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah tidak hanya merealisasikan pelebaran Jalan Marina City, tetapi juga melakukan penataan kawasan melalui penertiban kios liar dan pasar kaget yang menggunakan ruang milik jalan. Dengan langkah tersebut, masyarakat optimistis kemacetan dapat terurai sehingga aktivitas warga, termasuk kendaraan darurat seperti ambulans, dapat kembali berjalan lancar. (*)

