Selasa, 23 Juni 2026

Kasus DBD di Batam Melandai, Nihil Kematian hingga Pertengahan 2026

Berita Terkait

Ilustrasi anak penderita DBD. (jpg)

batampos – Setelah sempat menjadi ancaman serius dalam beberapa tahun terakhir, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Batam menunjukkan tren menggembirakan. Hingga 21 Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 205 kasus DBD tanpa satu pun kasus kematian.

Capaian tersebut menjadi kabar baik bagi dunia kesehatan di Batam. Pasalnya, pada tahun 2024 lalu DBD merenggut 14 nyawa warga Batam, sedangkan pada 2025 tercatat tiga kasus kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, mengatakan kondisi ini menunjukkan upaya pengendalian DBD yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat mulai membuahkan hasil. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan mengingat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut masih menjadi ancaman saat musim hujan dan perubahan cuaca ekstrem.

“Alhamdulillah hingga pertengahan tahun ini belum ada laporan kematian akibat DBD. Namun masyarakat jangan lengah karena potensi penularan tetap ada. Pencegahan harus terus dilakukan secara konsisten,” ujar Didi, Senin (22/6).

Data Dinkes menunjukkan jumlah kasus DBD tahun ini jauh lebih rendah dibandingkan beberapa tahun terakhir. Pada 2025 tercatat 809 kasus, tahun 2024 sebanyak 871 kasus, dan tahun 2022 mencapai 902 kasus.

Penurunan juga terlihat dari angka Incident Rate (IR) atau tingkat kejadian DBD yang kini berada di angka 15,28 per 100 ribu penduduk. Angka tersebut turun drastis dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 60,28 per 100 ribu penduduk dan tahun 2024 sebesar 68,21 per 100 ribu penduduk.

Berdasarkan sebaran kasus, wilayah kerja Puskesmas Sei Langkai menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 44 kasus. Disusul Batu Aji sebanyak 27 kasus dan Tanjung Uncang 20 kasus.

Sementara itu, kelompok usia produktif di atas 15 tahun masih mendominasi penderita DBD. Dari total 205 kasus, sebanyak 122 penderita merupakan laki-laki dan 83 perempuan.

Menurut Didi, penurunan kasus tidak lepas dari penguatan surveilans, penyelidikan epidemiologi, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kunci pengendalian DBD sebenarnya ada di lingkungan rumah masing-masing. Karena itu kami terus mengajak masyarakat rutin melakukan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk,” katanya.

Ia menjelaskan, fogging bukan solusi utama dalam memberantas DBD. Langkah yang paling efektif adalah memutus siklus hidup nyamuk dengan menghilangkan tempat perindukannya.

Dinkes Batam juga terus memantau perkembangan kasus melalui seluruh puskesmas dan rumah sakit. Jika ditemukan peningkatan kasus di suatu wilayah, tim kesehatan akan segera melakukan penyelidikan epidemiologi dan intervensi lapangan.

“Kami berharap tren penurunan ini dapat terus dipertahankan hingga akhir tahun. Tapi keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat menjaga kebersihan lingkungan,” tutup Didi.(*)

UPDATE