Sabtu, 9 Mei 2026

Ketua ALFI Batam: Ubah Sistem Door to Door Jadi Door to Port

Berita Terkait

Ilustrasi. Aktivitas di Pelabuhan Batu Ampar. Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Capt Daniel Burhanuddin, mengatakan, masalah mahalnya tarif kontainer ini karena ada penerapan harga door to door yang diterapkan forwader Singapura. Foto: BP Batam untuk Batam Pos

batampos – Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Capt Daniel Burhanuddin, mengatakan, masalah mahalnya tarif kontainer ini karena ada penerapan harga door to door yang diterapkan forwader Singapura.

Ia mencontohkan, dengan adanya harga door to door ini, tarif sebelumnya sebesar 40 dolar naik menjadi 70 dolar. Sehingga, Singapura mengambil keuntungan yang lebih banyak tarif kontainer ini.

”Makanya, kalau menurut saya paling gampang itu menyelesaikannya, ubah sistem door to door menjadi door to port,” kata dia.

Sebab, dengan tarif door to door yang paling diuntungkan adalah perusahaan lokal Singapura. Sehingga dengan kebijakan door to port, tidak ada penambahan biaya yang dibebankan kepada pengusaha.

”Sekarang dia ambil untung sebagai contoh 40 dolar dia bikin menjadi 70 dolar. Jadi, ada penambahan mark up 30. Tapi kalau dia misalnya kita ganti door to port, pengusaha lokal kan cuma mengeluarkan 40 dolar saja,” jelasnya.

Penerapan sistem door to door ini dianggap Daniel sebagai ”penjajahan” gaya baru oleh Singapura. Penjajahan yang dimaksudkannya dalam artian ketergantungan dengan Singapura.

Sebagai contoh, kebijakan pembukaan wisatawan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Namun ketika Singapura belum membuka pintu wisatawan, tentu pemerintah Indonesia tak bisa berbuat apa-apa.

”Soal tarif yang tinggi itu door to door harus diubah menjadi door to port. Jadi, sejatinya Kadin itu mengundang pengusaha berbicara dan tanya pendapatnya satu per satu. Kok cuma bilang mahal, memang iya mahal, tapi apa sebabnya mahal? karena Singapura bikin door to door. Jadi, kita ditagih oleh mereka itu lah yang disebut penjajahan gaya baru,” tegasnya.

Ia menambahkan, ketergantungan Indonesia terhadap Singapura, dianggapnya sebagai penjajahan gaya baru. Sebab, Singapura yang hanya negara kecil, tapi mempunyai hasil ekspor yang paling banyak.

”Sistem door to door ini Singapura yang bikin, bukan kita. Nah, hal ini didukung oleh pemerintah. Maka ubah jadi door to port. Mengenai pengawasannya diberikan ke asosiasi. Tapi kan tidak ada sampai sekarang,” imbuhnya.(*)

Reporter: Eggi Idriansyah

UPDATE