
batampos- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat di Kepulauan Riau. Meski belum sepenuhnya terdata, pergeseran dari BBM non subsidi ke subsidi diperkirakan mulai terjadi.
Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga wilayah Kepri, Bagus Handoko, mengatakan mekanisme pasar akan berjalan secara alami menyusul perubahan harga tersebut.
“Sudah dipastikan, mekanisme pasar pasti berjalan. Biasanya akan ada pergeseran konsumsi dari non subsidi ke subsidi,” ujarnya, Selasa (21/4).
Namun demikian, ia menyebutkan bahwa data pasti terkait kenaikan konsumsi BBM subsidi belum dapat dihitung secara akurat dalam waktu dekat. Karena belum terdata semuanya.
“Kenaikan belum bisa tercapture 100 persen. Kami lihat dua minggu ke depan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas,” jelasnya.
Meski begitu, pihaknya telah memiliki estimasi terkait kenaikan konsumsi BBM subsidi. Konsumsi BBM Subsidi meningkat.
“Estimasi kami, konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar bisa naik sekitar 10 sampai 15 persen,” ungkap Bagus.
Di sisi lain, konsumsi BBM non subsidi diperkirakan mengalami penurunan cukup signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan harga serta selisih harga dengan BBM industri yang semakin tipis.
“Untuk BBM non subsidi, ada penurunan. Pertamax Turbo diperkirakan turun sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya.
Penurunan lebih besar terjadi pada Dexlite. Bagus menyebut konsumsi jenis BBM tersebut bisa turun hingga 40 persen.
“Dexlite bisa turun sampai 40 persen. Ini bukan hanya karena kenaikan harga, tapi juga karena disparitas dengan BBM industri yang semakin tipis,” jelasnya.
Kendati demikian, Bagus menegaskan bahwa seluruh angka tersebut masih bersifat estimasi awal. Pasalnya, perubahan harga BBM baru berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
“Ini masih belum bisa dipastikan, karena baru berjalan 2–3 hari. Kami masih terus memantau perkembangan di lapangan,” tutupnya.(*)

