Selasa, 28 April 2026

Nge-Jazz di Batam

Berita Terkait

batampos – Batam pelan-pelan membangun identitasnya lewat jazz. Bukan sekadar ikut merayakan agenda global, International Jazz Day, yang diinisiasi UNESCO setiap 30 April, tetapi juga menunjukkan bahwa kota ini punya denyut musik yang terus tumbuh.

Perayaan tahun ini yang digarap Batam Jazz Society (BJS) terasa seperti panggung regenerasi. Lebih dari dua dekade mereka konsisten merawat ekosistem jazz lokal—bukan cuma menghadirkan konser, tapi juga menciptakan ruang belajar, bereksperimen, dan berkembang bagi musisi muda.

Nama Zamis jadi salah satu bukti nyata. Penyanyi jazz yang sedang naik daun ini membawa warna baru lewat karya orisinal yang kuat. Kehadirannya bukan cuma penampilan, tapi simbol bahwa jazz Batam sedang memasuki fase baru.

Energi serupa juga terasa dari Luke Jozsua. Di panggung hari ketiga, 2 Mei 2026, drummer muda ini bakal menunjukkan eksplorasi musik yang berani dan dinamis—menandai bagaimana generasi baru mulai mendefinisikan ulang jazz dengan cara mereka sendiri.

Menariknya, regenerasi ini berjalan beriringan dengan kolaborasi. Line-up seperti C.O.A, Tanaka Manaloe, BOP Quintet, Tanjak Impromptu, Alphamama dari Belanda, hingga Diminished 7th dari Tanjung Pinang memperlihatkan pertemuan lintas gaya dan latar.

Di hari penutup, sorotan mengarah ke Sausan—mahasiswi Politeknik Batam yang mulai dikenal lewat Jazzelasa—serta Roadroots, band yang tumbuh dari komunitas dan tetap setia pada akarnya. Keduanya jadi representasi perjalanan, dari ruang kecil komunitas hingga panggung yang lebih luas.

Puncaknya, kolaborasi internasional menghadirkan Nita Aartsen bersama Pong Nakornchai, Alexander, dan Brandon. Di titik ini, batas geografis seolah hilang—yang tersisa hanya bahasa musik yang menyatukan.

Lewat International Jazz Day 2026, Batam tidak sekadar merayakan jazz. Kota ini sedang bercerita—tentang proses panjang, tentang komunitas, dan tentang generasi baru yang siap membawa jazz ke arah yang lebih luas. (*)

UPDATE