
Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya hoaks, akurasi menjadi tantangan utama media massa. Batam Pos menekankan bahwa kerja jurnalistik tidak semata-mata mengejar kecepatan, tetapi harus mengutamakan kebenaran, ketepatan, verifikasi, dan konfirmasi sebelum informasi disampaikan kepada publik.
Jamaluddin Lobang, BATAM
Tiga mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang tergabung dalam Kelompok 57 Kuliah Kerja Nyata (KKN) menyambangi kantor Batam Pos di Orchard Walk Blok H Nomor 1, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, Jumat (27/7).
Ketiganya merupakan perwakilan dari 20 mahasiswa Kelompok 57 yang akan melaksanakan KKN di Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam. Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus mengenal lebih dekat kerja jurnalistik dan proses produksi berita di media massa.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Marcho Chandra dari Program Studi Ilmu Hukum, Talina dari Program Studi Akuntansi, dan Yaspis dari Program Studi Hubungan Internasional. Mereka berdiskusi sekitar satu jam bersama jajaran redaksi Batam Pos.
Kedatangan mereka disambut Pemimpin Redaksi Batam Pos Fiska Juanda, Direktur Batam Pos R Yusuf Hidayat, dan Sekretaris Redaksi Umy Kalsum.
Dalam kunjungan itu, mahasiswa mendapat penjelasan mengenai proses kerja jurnalistik, mulai dari peliputan, verifikasi dan konfirmasi informasi, penulisan berita, hingga proses penyuntingan sebelum berita diterbitkan.
Ketua Kelompok 57 KKN UMRAH, Marcho Chandra, menanyakan tantangan media massa di tengah derasnya arus informasi digital, terutama dalam menghadapi fenomena hoaks dan video yang beredar di media sosial.
Baca Juga: Terjaring Razia Knalpot Brong dan Balap Liar, Motor Ditahan sampai Putusan Pengadilan Keluar
Ia juga mempertanyakan bagaimana keberadaan media cetak seperti koran Batam Pos di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin banyak mengakses informasi melalui platform digital.
Talina menilai media massa tetap memiliki peran penting dalam menjaga kualitas informasi publik. Menurut dia, kecepatan informasi di media sosial tidak selalu diikuti dengan proses verifikasi yang memadai.
“Media cetak seperti koran tetap dipertahankan karena masih banyak orang tua yang mencintai koran. Di media sosial atau online, banyak pemberitaan yang cepat tetapi belum terverifikasi dan perlu diuji kembali. Koran menjawab itu dengan memberikan berita yang akurat sehingga akhirnya dipercaya publik,” kata Talina dalam diskusi tersebut.
Direktur Batam Pos R Yusuf Hidayat menjelaskan pentingnya literasi media bagi mahasiswa. Menurut dia, mahasiswa memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat memilah informasi yang benar di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia mengatakan Batam Pos telah berkiprah selama lebih dari dua dekade dan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Media tersebut, kata dia, bermula dari koran dan kemudian mengembangkan platform digital melalui situs berita daring.
“Batam Pos tetap beradaptasi dengan zaman dan teknologi yang terus berkembang. Cara orang mengakses berita sekarang beragam. Kami masih bertahan dengan koran dan website, dengan ribuan masyarakat yang percaya kepada Batam Pos. Modal kami adalah kepercayaan publik,” ujarnya.
Menurut Yusuf, selama 28 tahun berkiprah, Batam Pos berupaya mengawal berbagai isu yang berkaitan dengan pembangunan, politik, sosial, hukum, dan ekonomi melalui pemberitaan.
Ia juga menjelaskan proses produksi berita di Batam Pos yang dilakukan melalui sejumlah tahapan. Setiap hari, redaksi melakukan rapat proyeksi – melibatkan para reporter yang dikoordinasikan oleh koordinator liputan.
Baca Juga: BP Batam Jamin Layanan Investor 24 Jam
Setiap reporter mendapat penugasan untuk meliput isu tertentu. Informasi yang diperoleh kemudian diverifikasi dan dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait untuk memastikan pemberitaan berimbang.
Berita yang ditulis reporter selanjutnya diperiksa oleh koordinator liputan sebelum diteruskan kepada redaktur. Setelah melalui proses penyuntingan, berita kembali diperiksa oleh redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi sebelum dinyatakan layak diterbitkan.
“Artinya, semua berita itu melalui proses yang panjang. Di era digital ini banyak hoaks karena semua orang seolah-olah bisa menjadi wartawan. Karena itu, proses verifikasi dan konfirmasi menjadi penting,” kata Yusuf.
Pemimpin Redaksi Batam Pos Fiska Juanda mengatakan pihaknya masih mempertahankan edisi koran karena memiliki ribuan pelanggan. Menurut dia, pembaca Batam Pos berasal dari berbagai kalangan, termasuk investor dan pemangku kepentingan yang membutuhkan informasi mengenai pemerintahan, perizinan, kewenangan pemerintah, hingga kebijakan Badan Pengusahaan (BP) Batam.
“Jurnalistik harus benar dan tepat, bukan sekadar cepat. Itu yang Batam Pos pegang dan akhirnya dipercaya oleh publik,” kata Juanda.
Ia mengatakan Batam Pos juga terus memperluas jangkauan melalui platform digital. Menurut dia, pembaca Batam Pos tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga tersebar di sejumlah negara.
Juanda menyebut informasi yang dipublikasikan Batam Pos turut dibaca oleh kalangan investor dari Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura yang memiliki kepentingan terhadap perkembangan politik dan ekonomi di Batam.
“Batam Pos menjaga demokrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Kelompok 57 KKN UMRAH sebanyak 20 Mahasiswa akan ditempatkan di Kelurahan Sekanak Raya, Kecamatan Belakang Padang. Kegiatan KKN dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, mulai 1 hingga 31 Agustus 2026.
Selama berada di lokasi KKN, mahasiswa akan menjalankan sejumlah program kerja. Di antaranya kegiatan mengajar, program kesehatan, pengelolaan bank sampah untuk mendukung kebersihan lingkungan, serta kegiatan perlombaan dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui kunjungan ke Batam Pos, mahasiswa berharap memperoleh wawasan mengenai dunia jurnalistik dan proses kerja media dalam memproduksi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mereka juga berharap komunikasi antara mahasiswa KKN dan Batam Pos dapat terus terjalin selama pelaksanaan program di Kecamatan Belakang Padang, termasuk dalam publikasi kegiatan positif yang dilakukan mahasiswa selama berada di tengah masyarakat. (*)

