Sabtu, 2 Mei 2026

Kurs SGD-Rupiah Bergejolak, Pelaku Valas Batam: Masyarakat Masih Wait and See

Berita Terkait

Ilustrasi mata uang dolar Singapura dan rupiah Indonesia. F.Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

batampos – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya Dolar Singapura, mulai dirasakan pelaku usaha penukaran valuta asing (valas) di Batam. Namun, kondisi tersebut belum diikuti lonjakan transaksi penukaran uang seperti yang kerap terjadi saat kurs bergerak tajam.

Ketua Umum Afiliasi Penukaran Valuta Asing Indonesia (APVA), Amat Tantoso, mengatakan pergerakan rupiah belakangan ini memang mengalami tekanan akibat situasi global yang memanas dan berdampak pada ekonomi dunia.

Menurutnya, ketegangan geopolitik internasional serta kenaikan harga minyak dunia ikut memengaruhi nilai tukar di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

“Kalau kita lihat akhir-akhir ini rupiah memang sedikit melemah. Dampaknya terasa karena harga minyak naik dan hampir seluruh negara di Asia juga mengalami kenaikan biaya,” ujarnya di Batam, Jumat (1/5).

Baca Juga: Dishub Tegaskan Parkir Tak Boleh Langgar Aturan dan Kejar Target Tidak Jadi Alasan

Amat menjelaskan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi juga memberi tekanan tambahan terhadap biaya operasional usaha money changer. Kondisi itu membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam menjaga stabilitas usaha di tengah pasar yang belum menentu.

Meski nilai tukar Dolar Singapura terhadap rupiah terus bergerak fluktuatif, hingga kini belum terlihat peningkatan signifikan dalam transaksi penukaran valas di Batam.

Menurut Amat, masyarakat masih memilih menahan diri dan mencermati perkembangan pasar sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.

“Sampai sekarang belum ada peningkatan signifikan. Masyarakat masih wait and see, melihat situasi dulu,” katanya.

Ia menambahkan, aktivitas penukaran uang di money changer saat ini masih berjalan normal, bahkan cenderung belum seramai periode-periode tertentu seperti musim liburan panjang atau momentum ekonomi tertentu.

Baca Juga: Kabar Gembira! PBB untuk Rumah Murah di Batam Dihapus

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, tren transaksi tahun ini juga belum menunjukkan kenaikan yang berarti. Peningkatan hanya terlihat saat akhir pekan, ketika arus wisatawan dari Singapore dan Malaysia masuk ke Batam.

“Biasanya kalau akhir pekan lebih ramai karena wisatawan datang. Yang paling banyak ditukar itu Dolar Singapura dan Ringgit Malaysia,” ungkapnya.

Sebagai kota perbatasan dan pintu gerbang internasional, Batam memiliki aktivitas penukaran valas yang cukup tinggi, terutama untuk kebutuhan perjalanan, perdagangan, dan pariwisata. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi global, pelaku usaha money changer masih berharap situasi segera stabil agar transaksi kembali bergairah.(*)

UPDATE