Jumat, 19 Juni 2026

Untung dari Turis, Buntung karena Kurs

Berita Terkait

Pengunjung menikmati makanan dan minuman yang ditawarkan pelaku UMKM di Dataran Engku Putri, Batam Center, Minggu (12/4). Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing turut berimbas terhadap pedagang skala kecil di Batam. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Bagi pelaku UMKM Batam, rupiah yang melemah menghadirkan dua kenyataan sekaligus: biaya produksi yang kian mahal dan wisatawan asing yang kian royal. Satu menjadi beban, satunya lagi membuka harapan. Di tengah paradoks itulah pelaku usaha kecil bertahan menjaga keuntungan.

KETIKA nilai tukar rupiah melemah, dampaknya mungkin tidak langsung terasa bagi sebagian masyarakat. Namun bagi Batam, kota yang hidup dari aktivitas industri, perdagangan, jasa, dan pariwisata internasional, perubahan kurs mata uang asing hampir selalu berimbas hingga ke tingkat usaha paling kecil.

Dalam beberapa pekan terakhir, rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang utama dunia lainnya. Pada awal Juni 2026, nilai tukar rupiah bahkan bergerak di kisaran Rp18 ribuan per dolar AS sebelum berangsur menguat kembali pada pertengahan bulan. Meski pergerakannya mulai menunjukkan perbaikan, dampak yang ditinggalkan belum sepenuhnya hilang.

Harga berbagai kebutuhan yang dipengaruhi bahan baku impor mulai mengalami penyesuaian. Dari kemasan makanan, bahan baku produksi, perlengkapan usaha, hingga suku cadang, banyak di antaranya masih bergantung pada pasokan luar negeri yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kondisi ini menghadirkan persoalan yang tidak sederhana. Kenaikan biaya produksi perlahan menggerus margin keuntungan, sementara ruang untuk menaikkan harga jual semakin terbatas karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Di tengah situasi tersebut, pelaku usaha dituntut menjaga keseimbangan antara mempertahankan pelanggan dan memastikan usaha tetap menghasilkan keuntungan.

Di sinilah ironi sekaligus keunikan Batam muncul. Ketika rupiah yang melemah menjadi beban bagi sebagian pelaku usaha, kondisi yang sama justru membuat kota ini semakin menarik bagi wisatawan Singapura dan Malaysia.

 

BACA SELENGKAPNYA di harian.batampos.co.id

ReporterTim Batampos

UPDATE