
batampos – Lockdown negara-negara tetangga di Asia Tenggara sangat menguntungkan Batam, sepanjang 2021. Menghadapi 2022, kalangan pengusaha industri optimis kondisi industri akan semakin stabil dan mampu terus menopang perekonomian Kepri, khususnya Batam.
Koordinator Wilayah Batam dan Karimun Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng mengatakan, dengan lockdown-nya Malaysia, Vietnam, Filipina, serta Myanmar yang kondisinya kurang stabil akibat persoalan geopolitis, membuat Batam kebagian pesanan yang cukup besar.
“Karena mereka tutup, Batam yang tetap mengizinkan industrinya tetap beroperasi dengan Izin Operiasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) mendapat limpahan order cukup besar, sehingga saat pandemi, ekspor Batam saat ini malah paling tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Tjaw di Batam Centre, Selasa (28/12).
Kawasan industri di Batam menyumbang 70 persen dari kontribusi ekspor Kepri, didominasi mesin dan peralatan elektronik. Selanjutnya industri kesehatan juga ikut menopang perekonomian Kepri,” tuturnya.
Kunci utama yakni keberadaan IOMKI yang menjadi instrumen utama, yang mampu memberikan keleluasaan kepada perusahaan agar tetap operasional, tapi harus tetap mematuhi protokol kesehatan.
Tjaw kemudian mengingatkan kepada pemerintah pusat agar segera mengintegrasikan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Dengan demikian, maka akselerasi perkembangan dunia industri di tiga pulau ini dapat semakin cepat.
“Dengan keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), maka daya saing di Kepri akan terus meningkat. Investor yang dulu mainnya di kawasan regional Asia Tenggara, ada kesempatan untuk berinvestasi di Kepri,” terangnya.
Batam, Bintan, dan Karimun akan saling melengkapi nanti, agar bisa bersaing dengan kawasan industri serupa di negara tetangga.
“Potensi ketiganya sama, tapi Batam itu sudah unggul dari dulunya mengenai infrastruktur yang lebih modern. Secara SDM, juga lebih bagus. Dengan penyatuan BBK, maka akan ada pemerataan SDM dan infrastruktur yang menjadi nilai tambah dari Kepri,” tuturnya.
Integrasi ini harus segera dilakukan, karena banyak perusahaan-perusahaan industri yang melakukan ekspansi proyek, imbas dari limpahan pesanan tersebut.
“Kita manfaatkan momentum perang dagang Amerika dan China, dimana Batam dengan dapat keuntungan. Sehingga perusahaan mampu lakukan perluasan dan jual produknya ke Amerika,” tuturnya.
Geliat industri akan bertambah, karena akan ada beberapa kawasan industri baru yang akan segera muncul di Batam. Salah satu hal yang menjadi kendala yakni belum terlaksananya implementasi pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat ke Badan Pengusahaan (BP) Batam.
“Kita minta percepatan itu, karena masih banyak yang belum didelegasikan. Ini jadi batu sandungan bagi investor, terutama soal barang larangan terbatas,” tekannya. (*)
Reporter: : RIFKI SETIAWAN

