Jumat, 3 Juli 2026

Reformasi Pelabuhan Batam Dinilai Perkuat Posisi sebagai Hub Logistik ASEAN

Berita Terkait

Pelabuhan Batu Ampar.

batampos – Reformasi tata kelola dan penyesuaian tarif di Pelabuhan Batam dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing logistik Indonesia di kawasan ASEAN. Kebijakan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai kenaikan biaya layanan, tetapi merupakan bagian dari transformasi menuju pelabuhan modern yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Pandangan tersebut disampaikan Kepala Program Studi Logistik Perdagangan Internasional Politeknik Negeri Batam (Polibatam), Dian Mulyaningtyas. Menurutnya, kebijakan pelabuhan harus dilihat dari perspektif pembangunan jangka panjang yang berorientasi pada peningkatan efisiensi dan konektivitas.

“Dalam perspektif ekonomi pelabuhan modern, penyesuaian tarif dan perubahan pola operasi pelabuhan tidak dapat dinilai semata-mata sebagai kenaikan biaya jangka pendek, tetapi harus dipahami sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas, konektivitas, dan daya saing jangka panjang,” tulis Dian dalam kajiannya.

Ia menjelaskan, transformasi Pelabuhan Batu Ampar telah menunjukkan hasil yang positif. Volume peti kemas Batam meningkat dari 624.061 TEUs pada 2023 menjadi 673.343 TEUs pada 2024 atau tumbuh sekitar delapan persen. Bahkan, layanan direct call internasional di Batu Ampar melonjak 212 persen pada periode Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, disertai pertumbuhan volume peti kemas sebesar 125 persen.

Menurut Dian, data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan justru mendapat respons positif dari pasar. “Pencapaian ini mengindikasikan bahwa pasar merespons positif peningkatan kualitas layanan dan konektivitas, sehingga argumentasi bahwa penyesuaian tarif secara otomatis menurunkan daya saing perlu dikaji secara lebih komprehensif dan berbasis data empiris,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa daya saing pelabuhan di tingkat regional tidak hanya ditentukan oleh murahnya tarif. Faktor seperti keandalan pelayanan, frekuensi pelayaran, waktu tunggu kapal yang rendah, hingga konektivitas global menjadi penentu utama dalam menarik aktivitas perdagangan dan investasi.

Dian menilai strategi BP Batam yang memperkuat kapasitas dan efisiensi operasional melalui penyesuaian tarif sejalan dengan praktik terbaik pelabuhan internasional. Menurutnya, tantangan utama bukan lagi soal perlu atau tidaknya penyesuaian tarif, tetapi memastikan penerimaan tersebut benar-benar digunakan untuk memperkuat infrastruktur dan digitalisasi pelabuhan.

“Jika reformasi ini dijalankan secara konsisten, Batam berpotensi mengikuti jejak pelabuhan-pelabuhan transhipment dan gateway terkemuka di ASEAN yang berhasil meningkatkan daya saing melalui kombinasi reformasi tarif, investasi, dan modernisasi tata kelola pelabuhan,” pungkas Dian. (*)

UPDATE