
batampos- Rencana pembangunan Jembatan Batam–Bintan hingga kini masih berjalan pelan. Di tengah harapan besar masyarakat agar dua pulau industri dan pariwisata itu segera terhubung, Pemerintah Provinsi Kepri mengakui masih ada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas, mulai dari kebutuhan anggaran hingga finalisasi desain.
Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad mengatakan komunikasi dengan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus dilakukan. Namun sampai saat ini proyek tersebut belum benar-benar berjalan.
“Masih kita terus komunikasinkan ke pemerintah pusat,” kata dia kepada Batam Pos, Rabu (15/4) siang di Wyndham Panbil.
Ansar mengakui saat ini ada dua skema yang tengah dipertimbangkan. Salah satunya dengan melibatkan investor melalui pola kerja sama jangka panjang. Pemerintah, kata dia, siap memberi kompensasi waktu konsesi yang cukup panjang bagi pihak swasta yang tertarik membangun proyek tersebut.
“Bisa 40 tahun atau 50 tahun kemarin kita bahas lah. Kemudian sudah ada beberapa yang kita bawa kesana. Kan nanti itu tetap di lelang dan kita masih melihat situasi kondisi program hari ini banyak yang di fokuskan untuk program-progam langsung ke masyrakat,” kata gubernur dua periode itu.
Menurutnya, agar proyek ini lebih menarik bagi investor, pemerintah juga membuka peluang tambahan fasilitas pendukung yang bisa menjadi sumber pendapatan di masa depan. Tidak hanya jembatan, tetapi juga koneksi utilitas lain seperti pipa air dan jaringan listrik bawah laut.
“Kemungkinan nanti bisa transmisi air dari Bintan ke Batam,” katanya.
Meski demikian, progres pembangunan fisik di lapangan disebut masih jauh dari kata selesai. Ansar mengungkapkan masih ada sekitar 40 titik yang harus diselesaikan dalam tahapan desain.
“Oh belum kita kan sekarang. Kemarin so intensnya sebagian sudah. Rupanya masih ada 40 titik lagi. Masih butuh sekitar 400 miliar untuk finalisasi desainnya,” kata dia.
Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah kondisi keuangan negara yang sedang difokuskan pada berbagai program prioritas langsung ke masyarakat. Karena itu, opsi pembiayaan dari investor dinilai semakin realistis.
Ansar mengatakan pemerintah memberi ruang kepada investor untuk ikut menyusun desain proyek. Menurutnya, jika investor terlibat sejak tahap desain, biaya konstruksi bisa menjadi lebih murah dan efisien.
“Mereka ingin mendisain sendiri. Kita sama pak dirjen kemarin kasih kesempatan silakan. Nah kita buka terus walaupun akhirnya nanti dilelang. Kalo mereka mendisain tentu ada privilege buat mereka. Kita usahakan maksimalkan teruslah,” katanya.
Awalnya, kata Ansar, proyek tersebut dirancang dengan kombinasi pembiayaan pemerintah dan swasta. Salah satu ruas yang sempat diprioritaskan adalah dari Batam menuju Tanjung Sauh. Namun situasi fiskal nasional membuat pemerintah harus berhitung lebih hati-hati.
“Tapi melihat situasi kondisi keuangan negara juga. Banyak program-program yang sedang di kerjakan,” katanya.
Di sisi lain, Ansar menilai proyek Jembatan Batam–Bintan tetap memiliki prospek besar meski lalu lintas harian kendaraan masih terbatas.
Ia melihat ada sejumlah pelaku usaha besar yang berpotensi ikut mendorong percepatan proyek karena memiliki kepentingan terhadap pengembangan kawasan. Beberapa nama yang disebut antara lain Salim Group, KEK Galang Batang, dan Panbil Group.
“Mungkin suatu saat kita kumpul bersama, kita dorong,” katanya.(*)



