batampos – Permasalahan tarif kontainer yang masih mahal menjadi keluhan pengusaha hingga saat ini.
Koordinator Wilayah Batam dan Karimun Himpunan Kawasan Industri (HKI), Tjaw Hioeng, mengatakan, persoalan tarif kontainer tersebut merupakan permasalahan yang sudah sejak lama dan tak pernah terselesaikan. Bahkan ia juga sudah pernah menyampaikan bahwa tarif kontainer sangat tidak wajar.
Ia mengungkapkan, dari Batam menuju ke Singapura tarif kontainer ukuran 20 feet bisa mencapai 500 dolar AS. Kemudian untuk ukuran 40 feet di kisaran 700 dolar AS.

”Sebenarnya, waktu zaman Wapresnya Pak Jusuf Kalla ke Batam, beliau sudah menjanjikan untuk turun. Setidaknya di kisaran 40 persen sekitar 300-an (USD) atau 400-an (USD),” sebutnya.
Namun, yang perlu diurai saat ini, kata dia, perlu dilakukan pendalaman terkait penyebab biaya kontainer itu mahal. Apakah permasalahan tersebut ada di Batam atau di Singapura.
Tentunya, untuk menjawab persoalan itu ada pengelola pelabuhan dan asosiasi pe-ngusaha yang bisa menjawabnya. ”Dari situ, baru bisa dilihat kenapa mahal. Memang keluhan pengusaha luar negeri atau PMA itu, dari dulu (tarif kontainer) ini yang belum beres,” katanya.
Sehingga, untuk permasalahan tarif kontainer ini perlu dilakukan duduk bersama untuk mencari jalan keluarnya. Sebab, permasalahan ini sudah bertahun-tahun tak pernah selesai.
Upaya penyelesaian ini pun juga sudah dilakukan Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Perekonomian, Susiwijono, saat berkunjung ke Batam, beberapa waktu yang lalu. Dari kunjungan itu, Sesmenko mengungkapkan ada faktor eksternal yang membuat tarif kontainer lebih mahal.
Ia menilai, faktor eksternal itu karena kapal-kapal yang bertonase besar tidak bisa bersandar ke Batam. Namun jika pun kapal bertonase besar itu masuk, kuantitinya juga tidak cukup. Sehingga saat ini Batam hanya bisa tergantung dengan Singapura.
Permasalahan ini tentunya bukan pekerjaan yang mudah untuk diselesaikan. Sehingga harus dilakukan komunikasi lagi dengan pihak Singapura.
”Kuantitinya ada atau tidak? Kalau tidak ada kuantitinya harga juga tak bisa berkurang. Memang bukan hal yang mudah menyelesaikan masalah tarif itu. Tapi juga bukan hal yang tidak bisa diselesaikan. Bisa diselesaikan memang agak rumit,” jelasnya.
Untuk itu, solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini perlu dilakukan komunikasi kembali antara pengusaha pelabuhan, BP Batam, kawasan industri, pemilik kapal maupun PMA. Untuk mencari titik terang permasalahan mahalnya tarif kontainer ini.
Sementara, jika harus melibatkan pihak Singapura, tentunya komunikasi itu dilakukan secara G to G (goverment to goverment).
”Saya pikir sudah beberapa kali diskusi permasalahan ini. Turun mungkin ada, tapi tidak signifikan turunnya. Turunnya tidak seperti yang diharapkan investor. Itu saja, masih belum maksimal turunnya,” imbuhnya. (*)
Reporter : Eggi Idriansyah
Editor : RYAN AGUNG

